Site Loader
Hubungi Kami

Jawa Tengah sebagai Rumah Budaya menjadi wacana follow up atas undang-undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Sejumlah pelaku budaya dan seni di Kabupaten Banyumas menggelar sarasehan dengan mengangkat tema “Menjadikan Jawa Tengah sebagai Rumah Budaya” yang diinisiasi oleh Yayasan Le GePe (Lembaga Gerak Pemberdayaan) bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Jawa Tengah. Selain sebagai respon terhadap Undang-undang tentang Pemajuan Kebuadayaan, Rumah Budaya juga menjadi salah satu dari lima janji kampanye Gubernur Jateng yang menjadi fokus program selama pemerintahannya.

Ripana Puntarasa sebagai fasilitator dan penyaji materi dalam sarasehan tersebut mengatakan bahwa Rumah Budaya yang diwacanakan mengandung pengertian menjadi “rumah” yang nyaman dan semua orang bisa berkreasi, berekspresi dan berapresiasi terhadap kebudayaan yang ada di masing-masing wilayah di Jawa Tengah. Rumah Budaya bukan bermaksud mengklaim keberadaan para pelaku kebudayaan yang telah beraktifitas budaya di lokal masing-masing. Namun, diharapkan dengan adanya rumah budaya ini mampu memberi energy positif bagi aktifitas pemajuan kebudayaan khususnya di Jawa Tengah dan umumnya untuk seluruh kebudayaan di Indonesia.

Salah seorang pegiat budaya dan aliran kepercayaan berkolaborasi menyanyikan tembang Macapat

Kebudayaan tentu tidak hanya terfokus pada produk fisik budaya. Kebudayaan harus menjadi cara hidup dan menyatu dalam kehidupan sebagai sebuah tata nilai yang menuntun kehidupan kepada kemuliaan hidup bersama. Ketika kebudayaan hanya berfokus pada produk budaya justru yang ada hanyalah kebudayaan yang bersifat pertikular, berjalan sekadarnya, dan bahkan menjadi involutif. Tentunya Rumah budaya jawa tengah ini dapat menjadi wadah berpengharapan yang dapat menyatukan berbagai komponen kebudayaan yang ada dalam simpul budaya kesatuan. Kita sadar betul saat ini tantangan terhadap kebudayaan nasional begitu jelas terlihat dengan gempuran globalisasi, modernisasi, dan revolusi industri 4.0.

Ripana Puntarasa saat memaparkan materi Rumah Budaya Jawa Tengah

Harapan para peserta sarasehan dengan wacana Rumah Budaya ini adalah agar kebudayaan dan para pegiat seni dan budaya di Banyumas tidak tergerus oleh budaya baru yang masuk. Selain itu diharapkan agar para generasi yang konsen dalam bidang kebudayaan ini dapat terfasilitasi dalam meningkatkan peran mereka di kehidupan sosial-masyarakat. Oleh karenanya salah satu peserta menyampaikan bahwa generasi penerus harus memahami tentang sejarah budaya, bukan hanya mengembangkan kebudayaan yang bersifat fisik namun miskin pemahaman sejarah dan juga filosofinya.

Persoalan regenerasi selain menjadi harapan juga menyimpan banyak tantangan. Tergerusnya moral generasi dengan watak konsumtif dan lebih tertarik dengan budaya asing menjadi problematika yang butuh penanganan serius ditengah program pemajuan kebudayaan. Peserta utusan dari Padepokan Filosofi dan Pondok Tani serta Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) menyampaikan beberapa hal terkait problem-problem kebudayaan dan beberapa tawaran solusi. Warseno berusaha menegaskan kebudayaan harus dimulai kembali dari pengarusutamaan kembali bidang pertanian sebagai ciri dasar berkembangnya peradaban dan dimulainya kebudayaan yang maju. Persoalan generasi tani yang mulai berkurang berbanding lurus dengan berkurangnya generasi muda pegiat budaya. Karena desa sebagai sumber pertanian dan tentu juga sumber kebudayaan lokal telah mulai terkikis dengan budaya kota dan konsumtif. Ia juga menambahkan agar Rumah Budaya yang akan dibentuk dilandasi oleh semangat filosofi Pancasila yang merupakan kristalisasi dari kebudayaan-kebudayaan daerah yang ada diberbagai tempat di Indonesia.

Dua peserta dari Padepokan Filosofi dan LAKL disela-sela waktu sebelum Sarasehan dimulai.

Persoalan budaya negatif yang terus diulang-ulang dan menjadi kebiasaan yang akhirnya diterima sebagai hal umum dan wajar telah menjadi problem krusial, seperti yang disampaikan Maziddin dari LAKL. Layaknya kebiasaan berbohong, kebiasaan korup, telah didengungkan menjadi budaya bohong dan budaya korup. Hingga akhirnya budaya yang notabene bermakna baik harus bersanding dengan predikat negatif yang menjadikan makna budaya menjadi bisa dipakai dalam kebaikan dan kejelekan. Sesimpel itu persoalan Rumah Budaya ini nantinya, tegas Mazidin, namun berat dan sukar solusinya.

Persoalan budaya yang hari ini dialami adalah pemajuan budaya berfikir. Berfikir kritis sebagai metode untuk memfilter budaya luar dan modalitas pemajuan budaya kiranya perlu dijadikan agenda utama Rumah Budaya. Pikiran kritis adalah dasar bertindak dan berkarya kreatif. Dengan kemajuan berfikir kritis pula maka inovasi budaya akan lahir sehingga ekspresi budaya yang lahir dari kedalaman berfikir tidak akan usang oleh kemajuan zaman. Dalam apresiasi budaya, budaya berfikir kritis akan memberikan ruh yang objektif kepada kreasi dan ekpresi budaya. Hingga pada akhirnya kemajuan budaya yang dilahirkan oleh usaha Rumah Budaya Jawa Tengah dalam hal pemajuan budaya memiliki nilai dasar dan modalitas bersama berupa filosofi dan kedalaman berfikir (kritisisme).

Kedua hal diatas menjadi saran penting yang ingin disampaikan Padepokan dan LAKL dalam momentum sarasehan Rumah Budaya Jawa Tengah di Karesidenan Banyumas. Dengan landasan filosofi yang kuat keberagaman budaya tentu akan bertemu pada puncak/kristalisasi budaya nasional yakni persatuan dan kesatuan. Melalui kritisisme berfikir pula para pelaku budaya tak perlu risau dengan gempuran budaya asing. Yang perlu dilakukan adalah memperkuat pertahanan diri dengan penguatan system, nilai, ajaran, dan kaderisasi. Kita jangan reaktif terhadap kemajuan, namun menyikapinya dengan arif dan bijaksana dan menguatkan nilai kebudayaan lokal yang kritis. (red.)

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *