Site Loader
Hubungi Kami
Para pembicara dalam Seminar Nasional bertajuk Mengungkap Jejak Kopi Gunung Slamet (Semenjak VOC sampai Sekarang)

Kopi Penjajahan menjadi frasa pemantik seminar dalam paper yang dibawakan Ashoka Siahaan karena akhirnya berkembang menjadi penjajahan kopi melalui tangan-tangan para pemilik kafe yang tidak memperhatikan soal-soal filosofi kopi. Pendiri Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik ini menjelaskan bahwa kopi pada  masa VOC mampu menjadi komoditas yang menduduki jajaran peringkat tertinggi dalam perdagangan komoditas dunia yang notabene mereka tanam dan kembangkan di Bumi Hindia Belanda.

VOC sangat antusias dalam melakukan usaha-usaha riset untuk inovasi berbagai tanaman komoditas perdagangan yang mereka kembangkan di Hindia Belanda waktu itu. Sampai masa Kolonial Belanda tanaman kopi terus menjadi primadona yang menggerakkan roda ekonomi colonial disamping tebu dan rempah lainnya. Sejalan dengan penjelasan Ashoka, Guru besar sejarah Universitas Muhammadiyah Purwokerto juga membenarkan tentang besarnya peran kopi bagi pemerintah kolonial Belanda. Prof. Dr. Tanto Sukardi menyampaikan bahwa kopi di Banyumas sudah ada sejak pemerintah colonial Belanda. Penanaman kopi terbagi menjadi tiga kategori/jenis yakni kopi kebon, kopi pager, dan kopi hutan. Komoditas kopi yang dicanangkan program tanam paksa oleh pemerintah kolonial adalah sebagai subsidi atas pajak tanah yang dimiliki oleh rakyat. Pemerintah kolonial ingin menjaga kondisi rakyat tetap pada pola rumah tangga produksi dan system rumah tangga uang. Meski dalam perjalanannya juga mengekang dan merugikan petani.

Menurut Ashoka yang juga pemerhati kopi sekaligus perevitalisasi kopi Belanda sejak 1990, memang kebun dimiliki rakyat, tanah milik rakyat, tumbuhan milik rakyat, proses milik rakyat, tapi ilmunya tidak milik rakyat. Sehingga apa yang disebut dualisme ekonomi oleh Boeke terjadi di era VOC, Kolonial, dan era Orde Baru. Padahal saat awal kemerdekaan, Pemerintah berusaha mempertahankan keunggulan tersebut dan me-restorasi kehancuran akibat peperangan kemerdekaan dengan tujuan agar kopi kembali menjadi komoditas unggulan dan menjadi income bagi Negara baru.

Pemaparan materi Sejarah Kopi Gunung Slamet

Sehabis masa Orde Lama terlihat pengulangan sejarah bahwa kepemilikan perkebunan kopi dan lain-lain dikelola saham global dengan manajemen modern ini menunjukkan kopi dalam bentuk penjajahan baru seperti saham multinasional pada kopi yang hanya dikarenakan ketidakmampuan kita secara nasional mengelolanya dan memasarkannya sendiri. Alih-alih mengangkat kopi, namun justru penurunan kuantitas karena alih fungsi lahan serta penurunan kualitas karena kualitas Sumber Daya Manusia yang tidak kunjung dibenahi.

Petani tidaklah diwariasi ilmunya namun hanya kebun dan tanamannya saja, yang berakibat bahwa petani tidak kunjung sejahtera dan bahkan semakin tertindas oleh system pasar dan monopoli pengetahuan. Perjuangan untuk mensejahterakan petani ini sejalan dengan maksud dan tujuan mencari Indikator Geografis (IG) bagi kopi Gunung Slamet agar mampu tampil di market nasional maupun internasional. Gerakan ini banyak dijelaskan oleh Riyaldi dari kemenkumham yang membidangi masalah IG.

Riyaldi mengatakan bahwa di Gunung Slamet terdapat dua varietas kopi yakni arabika dan robusta. Untuk memperoleh IG harus ada kerja bersama patani, pengolah dan pedagang kopi dalam memperjuangkan kopi Gunung Slamet

Filosofi kopi didefinisikan oleh Ashoka sebagai gerakan mengadvokasi dan memproduksi sedari awal Kopi Gunung Slamet-Banyumas secara organik sekaligus berusaha meluruskan filosofi kopi sebagai hubungan antara subjek penanaman kopi atau perkebunan kopi rakyat dengan objek yang sesungguhnya yang dia hasilkan sehingga petani kopi mendapat nilai lebih dari apa yang ia tanam. Filosofi kopi bisa menjaga keseimbanagan dalam kerjasama yang fair dalam basic community trade maupun fair trade, tegasnya. Hal ini disambut baik oleh Sri Mulato sebagai tokoh dari Pusat penelitian Kopi dan Kokoa, Jember. Ia menambahkan bahwa usaha dalam memajukan kopi khususnya kopi Gunung Slamet harus didukung oleh kesejahteraan petani kopi. Ia mengusulkan agar digalakkan industri pedesaan dalam bidang kopi jika benar-benar ingin menjadikan Kopi Gunung Slamet memiliki nama dan diperhitungkan oleh pasar kopi dunia.

Diskusi Kopi disela-sela kegiatan FKGS

Paper Ashoka disambut baik oleh ketiga pembicara lainnya yang secara filosofis memberikan landasan berfikir bagi gerakan mendapatkan IG untuk kopi Gunung Slamet. Ia juga berpesan bahwa tantangan bagi perkembangan kopi dan khususnya petani kopi adalah berasal dari internal dan eksternal, baik berupa persaingan modal dan teknologi serta susah bersatunya para petani kopi dan juga pedagang kopi. Dimana petani kopi yang memiliki basis material harus tetap dilindungi dan disejahterakan, jangan sampai ada penindasan diantara sesama petani kopi maupun pedagang kopi terhadap petani kopi yang nantinya akan cenderung eksploitatif. Harusnya gerakan bersama ini terbingkai dalam semangat kopi serikat dan gotong-royong dalam bentuk koperasi sebagai cerminan dari sila keadilan sosial Pancasila.

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *