Site Loader

TRIDAYA UPAYA KARSA; Menjembatani Kesenjangan Peradaban[1]

“Soalnya bukan karena tiada tenaga,
Akan tetapi karena kurang daya kemauan”.
(Victor Hugo)

Kebangkitan berpikir amat penting sebagai ukuran kemajuan peradaban. Untuk itu paper ini akan menjelaskan pemikiran Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Yasnaya Polyana yang telah menjalankan gerakan budaya dalam kurun waktu hampir tiga dasawarsa. Pemikiran ini saya sebut sebagai Tridaya Upaya Karsa, dan dilontarkan sekarang untuk ikut mengisi pemikiran budaya dalam arti seluas-luasnya dari berbagai aspek karena budaya sebetulnya memegang peran sentral di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (FIB Unsoed) yang sedang berulang tahun (dies natalies) ke-6 hari ini, semoga kita mempunyai titik kesamaan dalam arti ideé maîtresse-nya, disamping tentu ada kekhususnya.

Tridaya

Ini mencakup seperti yang umumnya kita kenal dari mazhab cipta-karsa-karya. Ketiganya ini sifatnya sebagai dorongan. Dorongan manusia mencipta gagasan, berkehendak mewujudkannya, dan berkarya dalam berbagai bentuk. Tridaya yang mencakup nilai-nilai tersebut, walau dalam perjalanan waktu tidak semudah seperti yang kita pikirkan untuk menjadi lokomotif penggerak peradaban.

Upaya Karsa

Padepokan Filosofi mencanangkan unsur energi bergerak sebagai Upaya Karsa sehingga menjadi mazhab pemikiran Tridaya tadi lebih sempurna menjadi Tridaya Upaya Karsa. Sekilas terlihat seperti sebuah pengulangan atau contradictio in terminis, karena dalam Tridaya sudah mencakup Karsa itu sendiri. Ini nanti akan dijelaskan bahwa kehidupan manusia harus di upayakan dengan berpikir kritis dan bergerak secara advokatif. Senantiasa mengandung energi menolak monopoli berpikir dari segelintir manusia, dengan bertindak. Energi bergerak itu yang menjadi penekanan dari Upaya Karsa tersebut agar segala tatanan mampu menciptakan suasana dan ruang mobilitas sosial vertikal.[2]

Tridaya adalah dorongan, sedangkan Upaya Karsa adalah kemauan. Keduanya harus terjalin baik. Kenapa ? Upaya Karsa sebagai penyempurnaan empiris saat ini atas Tridaya yang sudah ratusan tahun menjadi kekuatan manusia atas cipta, karsa, dan karya-nya tapi secara empiris kita masih menjadi bangsa tertinggal dalam berpikir dan literasi. Kita tidak menyalahkan tridaya tersebut, tapi unsur karsa yang perlu ditinjau secara kritis filosofi.

Tri Daya Upaya Karsa

Mungkin dimasa lalu cukup Tridaya tersebut sebagai pendorong, tetapi ternyata letaknya adalah pelemahan karsa itu sendiri, oleh karena itu berpuluh tahun pengamatan Padepokan Filosofi dengan berbagai multidimensi ruang dan waktu menetapkan perlunya Upaya lebih besar atas karsa manusia Indonesia yang semakin tergerus dari berbagai segi ketertinggalannya. Mazhab Tridaya bagi kita perlu menambahkan Upaya Karsa sehingga mazhab menjadi lebih berdimensi bergerak dalam wujud mazhab Tridaya Upaya Karsa.

Banyak pemikir seperti Henri Bergson (filsuf Perancis) yang sudah mengungkapkan pemikirannya Creative Evolution dengan mengungkapkan istilah khasnya élan vital yang menjadi terkenal di dunia, sebagai life force (dorongan untuk kehidupan) yang sebetulnya tidak asing bagi mazhab Tridaya. Hanya saja Bergson menekankan bahwa dorongan itu bukan mekanis sifatnya tapi kreatif yang terus menerus atas kelangsungan untuk hidup manusia. Tidak perlu ada revitalisasi kalau memang élan vital berlangsung dan berkesinambungan dalam kebudayaan sebagai sustainable culture dalam dimensi yang luas spectrum geraknya.

Nietzsche dengan pemikiran kehendaknya (wille zu macht) sangat mengutamakan vitalitas yang mampu menggerakan si individu menjadi eksistensial yang nihilis dan meragukan segala nilai-nilai lemah sehingga dibayangkannya manusia unggul (ubermensch). Walaupun demikian Nietzsche tidak menentang capaian nalar dan pengetahuan dalam mengembangkan perbaikan kehidupan manusia. Yang dikutuk justru nalar sebagai penyedia jawaban yang melepaskan orang dari sikap ketakacuhan dan keingintahuan, untuk mencari tahu tentang dunia, bahkan asyik dengan keberadaan sehari-hari.[3] Ia berusaha menyoalkan manusia dari dalam nilai diri manusia itu sendiri. Kesadaran akan kehendak bisa kita liat dari Nietzsche bagi kesempurnaan usaha manusia dalam kutipan “Guru-guru dan pendidik mengira bahwa cukup orang diajari dan dilatih otaknya, mereka itu sama sekali tak mengerti bahwa ada satu hal yang sangat perlu: pendidikan kemauan. Untuk apa saja orang harus menempuh ujian, hanya satu hal yang tak perlu ujian yaitu: untuk menunjukan kekuatan kemauan-nya, karena berkemauan berarti; berhak untuk berjanji.[4]

Dalam mazhab Tridaya, cipta, karsa, karya memang selalu dipertanyakan bagaimana cara-cara membangkitkan karsa, kemauan. Daya kemauan menurut Dr. Broder Cristiansen dalam bukunya Wage zum Erfolf, disebutkan; Willenskraft is unentbehrlich! Yaitu daya kemauan adalah perlu mutlak. Rencana hanya ada artinya jika dilaksanakan, tenaga yang melaksanakan itu adalah kemauan. Daya kemauan ialah semata-mata kesanggupan untuk mentaati diri sendiri. Jika kita tidak mempunyai kekuatan ini, daya ini, tenaga ini, maka semua rencana dan wacana kita itu tak ada gunanya.[5]

Kalau kita membahas asal kemauan dan kehendak tidak lepas dari keingintahuan, seperti dikatakan Nietzsche tadi diatas bahwa nalar bukan berhenti dari sekedar penyedia jawaban, oleh karena itu kita akan teringat soal proses tahu dan pengetahuan kepada Socrates. Empat proses tahu Socrates: aku tahu bahwa aku tahu, aku tahu bahwa aku tidak tahu, aku tidak tahu bahwa aku tahu, aku tidak tahu bahwa aku tidak tahu. Persoalan dalam kaitan dengan Tridaya adalah ada faktor kelima diluar keempat proses tahu Socrates yaitu ada hal tidak berkemauan untuk tahu alias tidak mau tahu.

Ashoka Siahaan saat berorasi

Kesenjangan Budaya

Upaya Karsa dimaksudkan untuk mengatasi hal seperti ini, situasi dimana persoalan bangsa harus dihadapi secara rasional dengan nilai-nilai kebangsaan dan kearifan lokal, tetapi menemukan kebuntuan berbagai kendala kesenjangan kebudayaan dan peradaban.

Kebudayaan dirasakan sebagai bagian dari hiburan dan kegembiraan, pendidikan kita bukan pendidikan untuk menciptakan mental “berkemauan” dan bergerak, lebih pada mekanistik sehingga kita tertinggal  dengan bangsa-bangsa lainnya dalam soal berpikir. Ketika kita mencapai kemerdekaan dengan Revolusi 1945 kita mencapai pergerakan Revolusi Mental, sehingga jembatan emas yang kita lalui adalah jembatan antara cita-cita dan kenyataan dengan kemauan yang kuat dan élan vital kita bisa menyatukan teori dan paktek sehingga Pancasila sebagai dasar filosofi bangsa dan merupakan kristalisasi dari berbagai kearifan lokal mampu mengkonritkan tujuan bangsa melalui konstitusi UUD’45 sebagai dasar hukum negara.

Dengan Revolusi mental dikumandangkan oleh Soekarno diartikan; “ia adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, bejiwa api yang menyala-nyala.” Mampu mengatasi kesenjangan teori dan praktek sehingga kemunafikan sosial budaya bisa dijembatani: dengan Upaya Karsa ketiga daya (Tridaya) tadi bisa bergerak dengan menghapus mental budak dan rendah diri (inlander/minderwardiyheidcomplex) bisa dikikis melaui pemikiran-pemikiran tokoh pendiri bangsa Soekarno, Tan Malaka dan Hatta, yang ketiga-tiganya pernah menulis dijauh hari sebelum kemerdekaan (1920-an dan 1930-an) tentang Indonesia Merdeka. Khusunya Soekarno dalam bukunya Mencapai Indonesia Merdeka sudah melihat kesemuan ‘Demokrasi’ yang sedari awal sudah digunakan kaum borjuasi Revolusi Perancis: “Marilah kita awas jangan sampai rakyat jelata Indonesia tertipu oleh semboyan ‘demokrasi’ sebagai Rakyat jelata Perancis itu yang ternyata hanya diperkuda belaka oleh kaum borjuis yang bergembar-gembor ‘demokrasi’ kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan, tetapi sebenarnya mencari kekuasaan sendiri.”[6] Jelas sekali Upaya Karsa pernah dan mampu menjadi advokasi bangsa dan kearifan lokal menjelang pergerakan kemerdekaan kita.

Postkolonial dan Postmodernisme

Tidak ada alasan kalau kita masih ada kesenjangan, ketidakmauan, dan ketidaktauan, atau “tidak mau tahu”, karena revolusi mental kita dari budaya nilai tuan dan budak dalam penjelasan Nietzsche bisa terjembatani dengan pengutan rasionalitas bangsa yang mampu menghapus mental terjajah sehingga persoalan postcolonial sudah harusnya bukan bahasan bangsa kita lagi. Pun dengan bahasan dan tinjauan postmodernisme belum tepat untuk digunakan karena bangsa ini harus mengembangkan rasionalitas yang sudah dibentuk semenjak revolusi. Buat apa musti mendekontruksi ideologi yang sudah memang terbukti mampu dan berdaya menyatukan. Buat apa musti merevitalisasi yang seolah-olah mendekontruksi lalu merekontruksi. Kita selalu memuja pemikir-pemikir baru seperti Laclau-Mouffe dengan bukunya Hegemony and Socialist Strategy dan tokoh-tokoh postmodern lainnya, padahal intinya sudah dimulai dari banyak tulisan bapak bangsa kita secara kritis dalam buku-buku Tan Malaka seperti Massa Aksi, Mencapai Indonesia Merdeka dari Soekarno yang sudah dibahas diatas. Dengan metode berpikir yang dibawakan para postmodern, tata nilai dan rasionalitas kita yang baru terbangun kembali hancur dan akan tergantikan dengan nilai-nilai individualisme sebagai dasar dari kekuatan pasar liberal kapitalisme. Seolah-olah demokratis padahal yang berkembang adalah oligarki. Upaya Karsa atas Tridaya kita harus tetap mengacu pada sejarah bangsa, dan sejarah pun harus dijadikan jembatan kemajuan peradaban manusia masa depan, karena kalau kita tidak berpijak pada sejarah apa artinya Tridaya yang sudah ratusan tahun menjadi pemikiran dasar kearifan lokal nusantara. Kesenjangan peradaban dan hak individu dan masyarakat sudah terwujud dalam Pancasila pada Sila Kemanuasiaan yang Adil dan Beradab karena Upaya Karsa para pendiri bangsa Indonesia.

Upaya Karsa sebagai Metode Menggerakan

Sebagaimana sudah panjang dijelaskan pentingnya kreativitas bukan mekanis suatu upaya kemauan harus bergerak sebagai metode untuk mencapai kenyataan yang dicita-citakan menjembatani teori dan praktek, agar cita, karsa, dan karya tidak menjadi sekedar slogan atau jargon politik tetapi menjadi sikap mental yang berkesinambungan, menjadi bio-empati yaitu empati yang melekat pada dirinya. Upaya Karsa menjadi metode untuk menggerakan Tridaya agar mampu beradvokasi ketimbang revitalisasi yang sifatnya lebih pada mekanis formal bukan advokasi yang filosofis yaitu dari tidak mau menjadi berkemauan, dari ketidaktahuan (avidya) menjadi keingintahuan.

Foto bersama dengan para dosen FIB Unsoed

Metode advokasi filosofi ini akan bisa membedah cara kita memandang budaya dan peradaban menjadi lebih kritis serta komprehensif, sehingga rasionalitas dalam kritik budaya dan sastra dapat terbangun berdasar tiga hal sebagai syarat dalam kritik apapun; pertama, bersifat rasional. Kedua, instropeksi diri dan kelompoknya, ketiga, selalu berusaha membangun solusi dan implementasi. Dengan demikian Upaya Karsa dapat berjalan mengembangkan peradaban, membangun teori dan praktek yang seimbang, sehingga tidak menjadi menara gading. Sejarawan besar Inggris Toynbee menganggap kehancuran pada hampir semua peradaban besar dunia disebabkan adanya perpecahan dari dalam.

Kritik atas Kritik

Sebagai usaha Upaya Karsa dalam peradaban untuk menjembatani teori dan praktek serta implementasi, kita berUpaya untuk sekritis mungkin membangun literasi disegala bidang. Dengan Lembaga Advokasi Kearifan Lokal dan House Of Writers kita berUpaya Karsa mendudukan literasi dalam artian advokasi filosofisnya, agar apa yang kita perjuangkan dengan literasi tidak menjadi kepentingan untuk diri sendiri. Kritik sastra dan budaya literasi perlu dilihat pendasaran tujuan penulisannya dari hubungan Subjek-Objek. Apakah si penulis itu membangun apa yang ia tulis, apakah advokasi filosofi bisa berlangsung sehingga keingintahuan akan menghasilkan kemauan atau sebaliknya juga.  Jangan sampai si Subjek mengeksploitasi Objek yang ia tulis, misalkan saja kita menulis sastra Riwayat Ronggeng, dan saat menjadi popular penulisnya justru pelaku ronggengnya hilang. Ini salah satu contoh perlunya krtitik atas kritik sastra budaya dalam arti luas. Kita bukan hanya mengadakan kritik hasil karyanya, tapi niat dan tujuan menulisnya yang penting juga untuk di kritik dengan syarat-syarat kritik yang sudah dijelaskan diatas tadi. Saya ingin mengutip sajak sahabat saya KH. Imron Zawawi; “ Lebih baik orang yang sesat dijalan yang benar, daripada orang yang merasa benar dijalan yang sesat.” Kira-kira begitulah pentingnya kritik atas kritik sastra budaya literasi. Tujuannya juga harus dikritisi apakah literasi itu bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi harus berUpaya Karsa kepada orang lain sehingga bisa menjadi jembatan peradaban. Karena peradaban bukan dibangun oleh seseorang atau segelintir orang. Oleh karena itu saya tidak sepakat dengan penulis Ahmad Tohari bahwa literasi untuk pengembangan diri pribadi secara optimal agar menjadi kuat, mampu bersaing, dan pasti beruntung. Anak muda digiatkan menulis demi perkembangan diri anda dan masa depan anda sendiri.[7]

Kita bisa mengambil contoh lain bagaimana proses lahirnya Pancasila, yang bukan objek Soekarno saat itu. Ia menyatakan bahwa dirinya bukan penemu tapi sebagai penggali nilai-nilai yang sudah ada dalam kehidupan masyarakat di Nusantara, terutama nilai-nilai gotong-royongnya.

Dengan menyelesaikan relasi subjek-objek berarti kita membangun kemauan dan kehendak menjadi energi bergerak untuk semua insan peradaban bangsa tanpa eksploitasi dan monopoli segelintir manusia. Peradaban kita akan dibangun tidak dengan cara verifikasi saja tapi falsifikasi rasional dalam perjalanan sejarah bangsa kedepan. Dengan Upaya Karsa kita bisa menyelamatkan Tridaya termasuk Pancasila yang harus bisa teruji dari zaman ke zaman menjadi corborated.

Tridaya Upaya Karsa yang kuat akan melengkapi kebudayaan menghadapi tantangan global sekarang ini. Kita tahu bahwa belum lama ini Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelontorkan program SDG’s (Sustanable Development Goals) atau TPB (Tujuan Pengembangan Berkelanjutan) yang menyangkut 3 dimensi yaitu (ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan inklusi sosial) dan 17 tujuan (tanpa kemiskinan/tanpa kelaparan/kehidupan sehat dan sejahtera/pendidikan berkualitas/kesetaraan gender/air bersih dan sanitasi layak/energi bersih dan terjangkau/pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi/industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan/kota dan pemukiman yang berkelanjutan/konsumsi dan prduksi yang bertanggungjawab/penanganan perubahan iklim/ekosistem kelautan/ekosistem daratan/perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh/kemitraan untuk mencapai tujuan. Dengan 169 target, 341 indikator), dan 3 Prinsip (universal, integration, no one left behind).[8]

Minus Tridaya Upaya Karsa

Sudah dapat dibayangkan perkembangan Global baik literasi, pembangungan berkelanjutan dengan tujuan-tujuanya yang luas, kalo kita tidak berUpaya Karsa maka kita akan mengalami distorsi dan disorientasi dalam melanjutkan cita-cita negara kita sebagaimana telah dituangkan dalam Pembukaan UUD’45. Dari konsep SDG’s tidak tertera eksplisit satupun tentang cultural development. Oleh sebab itu kita perlu kekuatan ideologi Pancasila masuk keranah kehidupan sebagai filter peradaban bangsa. Tidak terteranya kata cultural secara spesifik bisa kita tafsirkan positif karena Budaya dipandang dalam artian yang luas, dan tidak lagi terpilah-pilah. Karena itu tadi dijelaskan diatas kita harus berUpaya merumuskan budaya dalam berbagai aspek dan lingkup kerja disesuaikan dengan situasi kita. Tridaya Upaya Karsa harus menggiatkan aspek Budaya dalam multidimensi kehidupan baik itu politik, hukum, ekonomi, sosial, dan seni itu sendiri. Filsafat pun adalah bagian dari kebudayaan yang harus mampu mendobrak kebekuan berpikir dan bergerak menghadapi empat tantangan:

  1. Konsumtif : Sebagai akibat over-industrialized di dalam strategi pembangunan kehidupan sehingga menciptakan bawah sadar kebutuhan yang dibutuh-butuhkan.
  2. Generasi Muda : Sebagai sasaran empuk Globalisasi Industri dan Konsumtif sasarannya pada lapisan usia produktif yang mudah dimanipulatif dengan generasi milenial yang konsumtif. Perhatian Upaya Karsa pada golongan muda karang taruna amat urgent untuk literasi penyadaran kebersamaan bukan individualistik. Bagi mahasiswa perlu magang di masyarakat dengan dibekali sikap kritis bukan dengan menghasilkan budaya kesenjangan desa-kota sehingga terjadi budaya sosial dendam kemiskinan dan demonstration effect.
  3. Toleransi : Sering kita kumandangkan toleransi tanpa Upaya kritis bahwa selalu diartikan hubungan mayoritas dengan minoritas, etnis maupun ras, dan agama (SARA) tanpa melihat Upaya Karsa dari kedua belah pihak dengan konsep kearifan lokal tepo-seliro (saling menghormati). Kita dengan Upaya Karsa harus bisa membawa Pancasila untuk mengatasi diktator mayoritas atau tirani minoritas. Budaya Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya menghormati keberagaman tapi budaya saling menghormati dalam beberagaman.
  4. Pariwisata : Turisme begitu marak seolah-olah menjadi penyelamat di desa-desa yang terjangkit tanpa arahan dan Upaya Karsa advokasi kearifan lokalnya. Betul bahwa pariwisata membangun mata rantai yang panjang sehingga memberikan peluang tenaga kerja. Tapi ketika menjadi industri wisata maka eksploitasi alam dan lingkungan pun terjadi dan terancam. Upaya Karsa literasi kearifan lokal akan terlupakan sehingga alih fungsi lahan produkif pertanian menjadi perhotelan dan pemukiman yang tak terkendali mengancam kehidupan bersama. Wisata bisa menjual mental bangsa karena hanya mengartikan budaya itu sebagai kenikmatan dan hiburan bukan penyatuan alam manusia dan budaya. Budaya literasi akhirnya dimaksud untuk tujuan instan dan ekonomi tanpa terpikir konsep wisata; dari konsep sadar wisata menjadi wisata sadar.

Kenyataan dan Harapan

Budaya masyarakat Banyumas adalah masyarakat terbuka yang bisa diisi dan dirawatkembangkan dengan Tridaya Upaya Karsa. Wilayah ini karena keterbukaannya jangan sampai menjadi terdistorsi dan disorientasi, apakah itu menjadi chauvinistik atau terjajah dengan globalisasi.

Kenyataan keterbukaan ini dapat dilihat dalam perjalanan sejarah Kemerdekaan, Banyumas memegang peranan penting dengan Kongres Persatuan Perjuangan (4 Januari 1946) yang amat heroik dalam pembentukannya diikuti oleh 140an elemen kelompok masyarakat termasuk tentara, disitu pula Jenderal Soedirman terpilih menjadi Panglima. Kota ini menjadi kota satria, dan kita berUpaya Karsa untuk menjaga élan vital sebagai ciri Satria itu kedepan, agar jangan berlaku semboyan jarkoni (iso ujar ora iso ngelakoni) dan selorohan “pagi delé sore témpé” yang diartikan tidak mampu menjaga kehendak dan kemauan yang terus berkembang keingintahuannya, kalau dulu Satria dalam bentuk heroik gerakan Kemerdekaan sekarang pun harus heroik dalam segala bidang yang bukan hanya wacana tapi bisa mematerialkan ide untuk pengembangan masyarakat bukan kepentingan individu semata.

Peran kampus dan intelektualnya sudah tersedia di Unsoed, khususnya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) yang sedang berdies natalies, untuk melakukan Upaya Karsa dengan berbagai cara berkebudayaan menjaga Kesatriaan Banyumas. Mengusahakan Upaya Karsa tridaya untuk pembangunan Banyumas lewat Kebudayaan, Pendidikan dan Agroliterasi agar terpelihara kesuburan tanah Banyumas dari alih fungsi lahan dan pariwisata yang liar menjadi pariwisata alternatif yang bermartabat Satria.

Kita harus ingat di Tahun 80-an justru di kampus ini dicetuskan Persatuan Cendekiawan Pancasila (PCPP). Ini salah satu bukti sejarah, yang dari sudut Tridaya Upaya Karsa seyogyanya harus dipertahankan Unsoed, karena membawa nama besar Satria Pangsar (Panglima Besar) Soedirman bukanlah hal yang mudah kalau tidak ada Upaya Karsa. Sebagai penutup orasi ilmiah filosofi Tridaya Upaya Karsa,  sekaligus menjaga warisan besar Jenderal Soedirman yang paling filosofis, saya akan mengutip pidato Panglima Soedirman saat pembukaan Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto;

“Lebih baik diatom sama sekali dari pada merdeka ta’100%”.[9]

Semboyan ini sebetulnya cocok dipasang digedung Unsoed ini untuk mengingat betapa pentingnya arti Kemerdekaan sebagai bangsa yang Berdaulat dan Kampus yang Bermartabat menjadi Kampus Merdeka!


  [1] Disampaiakan dalam Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-6 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (FIB Unsoed), Purwokerto 27 Oktober 2020.
  [2] Padepokan filosofi, Penghargaan Filosofi Tridaya Upaya Karsa Pertama, Purwokerto : Penerbit Prometheus-LAKL, 2019, hlm. 9-10.
  [3] Roy Jackson, Friedrich Nietzsche,cetakan pertama, Yogyakarta: Bentang Budaya, 2003, hlm 28.
  [4] Sumantri Mertodipuro, Memperkuat Daya Kemauan, Jakarta : Daya Karja , 1964, hlm 28-29.
[5] Loc.cit
[6] Ir. Soekarno, Mencapai Indonesia Merdeka, 1933, hlm 71.
[7] Kompas, “Literasi Modal Kemajuan”, Ahmad Tohari; tanggal 13-07-2020.
[8] Maria Dian Nurani, Menuju Bisnis Berkelanjutan, Jakarta: Balai Pustaka, Desember 2018, hlm. 4-8.
[9] Harry A. Poeze : Tan Malaka,Gerakan Kiri, dan Revolusi Indoneisa, Jilid I, Jakarta:Yayasan Obor, 2004, hlm. 216.

   

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *