Site Loader
Hubungi Kami

Mengenang sahabat kami Ibu Maria Rita Roewiastoeti

Maria Rita Roewiastoeti Suryaalam nama lengkap dari  panggilan akrab kami Maria Roewi telah kembali ke Pencipta-Nya, Sangkan Paraning Dumadi. Ia adalah  satu dari tiga perempuan yang tegar, yang ikut dalam gerakan di Prometheus Society kita di tahun akhir ‘80an di Forum Selasaan di wilayah Setia Budi, Jakarta. Dua perempuan lainnya adalah Ade  Rostina Sitompul (alm) berkecimpung di politik hak azasi manusia, dan Marriane Katoppo, politik teologi pembebasan terutama bidang sastra dan perempuan. Ketiga mereka sudah wafat tapi legacy mereka masih terasa kuat dalam berbagai karya dan gerak yang mereka tinggalkan, ketiga mereka juga yang banyak mengusulkan diskusi dan kelangsungan berdirinya Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana. Mereka amat berjasa dalam bidang advokasi politik dibidangnya tadi, politik dalam arti luas dan sehat.

Maria sendiri tidak hanya bergerak di bidang hukum ataupun Politik Agraria, banyak orang belum mengenal kiprahnya di penguatan pemberdayaan ekonomi kecil di Klaten, juga di literasi umum teologi perempuan maupun pemberdayaan petani kecil. Ia amat gandrung dalam hal tanaman organik Inilah yang membuatnya ikut bersentuhan mengembangkan Padepokan Filosofi dan Pondok Tani kita di Purwokerto. Pohon Sukun  yang ia tanam sendiri 25 tahun lalu masih berdiri tegak di Padepokan ini. Begitu pula pisang Raja dari Solo, dan klengkeng Salatiga-nya, mengingatkan ayahnya Supingi, sang guru tempat ayahnya berasal, dan ibunya dari Ndalem Kalitan Solo. Di kediamannya sekaligus komplek keluarga yang sering rutin saya kunjungi, terlihat aneka tanaman koleksi hampir dari setiap tempat dan orang yang  ia kunjungi, termasuk jeruk kecil lemon dari pantai Ambon-Maluku. Ia rajin membibitkan sesuatu untuk dibagikan kepada sahabat –sahabat dekatnya. Terakhir tahun lalu sebelum wabah covid-19, ia masih sempat memberikan bibit pisang candi sebutannya dari daerah pembantunya yang berasal dari Pasuruhan, Jawa Timur.

Beberapa tahun lalu juga sempat saya memberikan kumpulan berita dari majalah Times yang menuliskan fakta baru tentang penemuan surat-surat pribadi Somone de Bauvoir kepada kekasihnya Jean Paul Sartre, juga surat-surat Rosa Luxemburg kepada laki-laki kekasihnya. Kedua fakta baru itu mengungkapkan  bahwa kedua kampiun feminis ini yang sempat menjadi idola para feminis kita yang heroik sampai sekarang, akhirnya menjadi pertimbangan yang lebih luwes dalam memandang hubungan lelaki dan perempuan dalam menanggapi budaya patriarki. Maria pun pandangannya menjadi luas. Maria sebagaimana maria-maria lain termasuk Maria Callas, menjalani kehidupan pribadi yang dramatis hingga akhir hayatnya. Tapi ini tidak menjadikannya luntur dalam berjuang membela bukan hanya untuk dirinya atapun perempuan, tetapi lebih universal kepada umat manusia yang tertindas termasuk petani, tanah, dan hak-haknya.

Selamat jalan Maria dalam keabadian yang kau wariskan nilai-nilai dalam pengetahuanmu sehingga pada awal maret 2019 Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polayana menganugerahkan Penghargaan Filosofi Tridaya Upaya Karsa sebagai upaya yang patut ditiru para aktivis mendatang yang sedang berjuang bukan hanya berpikir-pikir dan menulis tapi berupaya karsa. Rest in Peace!

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *