Site Loader
Hubungi Kami

Di tengah kancah per-politikan nasional yang sedang ramai dalam pertarungan demokrasi dan nasionalisme, Bang Sabam Sirait berperan cukup banyak dan menentukan perpolitikan bangsa sejak era 70-an, dan di sini pula kita kehilangan tokoh manusia yang mengerti bagaimana berpolitik harus dijalankan di antara hitam dan putih. Berika dukanya membawa saya mengenang rencana terakhir kita yang tidak terlaksana yaitu meluncurkan buku karangannya berjudul Politik Itu Suci yang sebetulnya sudah saya siapkan di tahun 2013 untuk diluncurkan di dua kota, Purwokerto dan Surakarta.

Buku ini menurut saya bernilai penting sekali ketika suasana politik sudah menjadi machiavelian bukan hanya dikalangan politik tapi disegala lapisan yang menghalalkan segala cara yaitu dengan satu instrumen: UANG. Bang Sabam yang saya kenal berpuluh-puluh tahun semenjak saya remaja, beliau saya dengar namanya karena saya yang selalu mengangkat telepon darinya untuk mencari ayah saya yang sama-sama di parlemen yang ia kagumi karena kesederhanaanya. Sering ia mengatakan kepada saya, “Bapakmu itu orang yang perlu ditiru.” Keduanya mempunyai kemiripan nothing to loose, tidak mempunyai beban untuk berbicara walaupun dengan nada halus tapi mengena pada persoalan. Tidak saya sangka setelah 20 tahun kemudian saya selesai kuliah saya bertemu langsung bahkan bergerak bersama dengan orang yang saya dengar selama ini hanya melalui telepon yaitu Sabam Sirait.

Brsama Sabam Sirait dan Megawati

Asmara Nababan (alm), Viktor Matondang (alm) dan saya tak terhitung perjumpaan kami dengan Bang Sabam diacara-acara diskusi bersama TB. Simatupang yang kala itu aktif dalam diskusi mingguan  di PGI maupun kongres-kongres KGM dari Akademi Leimena. Memang beliau tidak vokal di forum karena menyadari betul bahwa dalam masalah-masalah kemasyarakatan dan teologi tidak bisa memaksakan politik praktis. Oleh kerena itu alm menggunakan nuansa “filosofis” yang banyak mencerahkan kelompok muda dalam segala lapisan. Saya waktu itu diminta beliau untuk mem back-up gerakan pemuda yang akhirnya berdirilah PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) ini jauh sebelum ICMI berdiri, walaupun kita tidak ikut dalam pengurus tapi mengarahkan untuk tidak berpolitisasi agama.

Tidak kurang perjalanan gerakan kita yang lebih banyak bersinggungan bersama almarhum bukan hanya bidang politik, tetapi juga dibidang intelektualitas yang progresif kepemudaan, penguatan kelembagaan (capacity building) baik itu untuk yayasan-yayasan komunikasi, LSM, Litbang, maupun seminar-seminar nasional dan lokal.

Saya teringat sekitar akhir tahun 1999 secara tidak sengaja kami bertemu di airport Sumatera Utara, beliau bersama salah seorang anaknya Batara yang pernah menjadi murid saya di Fakultas Kedokteran UKI, kami terlibat  pembicaraan kecil sambil menunggu barang di bagasi. Dia menyapa saya kenapa saya tidak berpolitik, saya bersenyum membalas dan menjawab kepadanya untuk sekedar menjadikan “perenungan”, “Bang, kedepannya masalah di partai politik adalah, yang biasanya kader mengkhianati partai tapi ke depan ini kita akan menghadapi partai yang menghianati kadernya.” Saya teringat betul wajahnya sambil tersenyum khasnya ia menjawab dengan agak merenung mengatakan, “Saya membutuhkan tiga hari untuk menjawab itu.” Bagi saya memang partai bagian dari nafas kehidupan Bang Sabam tapi dia bukan ikan yang mengikuti arus melainkan ia menjadi ikan yang melawan arus. Mungkin sekilas orang menganggap ia seorang pragmatis karena dalam beberapa periode kepartaian yang banyak ia lewati hanya saja yang saya kenal dia tidak lari dari relnya yaitu, pertama, rel kemanusiaan, menjujung tinggi hak-hak  individu dan masyarakat. Kedua, kecerdasan, karena ia selalu mendidik pemuda untuk berkualitas dalam berpolitik. Ketiga, ideologi, yang ia gunakan untuk mengatasi kedua aspek yang diatas apakah itu kader yang cerdas maupun kemanusiaan tidak terjebak pada individualis humanis melainkan humanis sosialistis agar tidak terjebak seperti yang dikatakan Gandhi dengan tujuh dosa sosial.

Banyak sekali sebetulnnya pertanyaan dan jawabannya di dalam diskusi yang seolah-olah penuh dengan gurauan bersamanya tapi tidak hilang dalam kedalaman makna pilihan kehidupan yang ia jalani yang ia hadapi berbagai gejolak dalam kehidupan berbangsa. Walaupun dia seorang berasal dari Sumatera Utara, sebagai suku Batak ia cukup amat populer dikalangan aktivitis masyarakat Papua. Di situ yang saya kagumi karena saya berjumpa langsung dengan masyarakat Papua yang saya kenal beberapa kelompok yang menganggap beliau sebagai bapak mereka, tetapi hal ini tidak mengurangi almarhum untuk tidak terjebak isu-isu Papua merdeka, ia tetap di garis NKRI harga mati. Perpecahan baginya adalah haram baik itu suku, agama, maupun azas persatuan dan kesatuan yang sangat ia junjung dan ia buktikan dalam momen-momen yang amat menentukan seperti pada saat peristiwa 20 Mei di Gedung DPR-MPR. Ini yang saya alami bersama beliau saat itu kita yang berada di bawah forum almarhum Ibu Supeni waktu itu ketua PNI Baru, jam 7 pagi sudah ada di DPR-MPR dengan tujuan mengadakan petisi yang di ketuai Ibu Supeni sebagai ketua PNI Baru, Buyung Nasution sebagai juru bicara dan Bang Sabam Sirait sebagai kordinator kita, kawan-kawan dari berbagai elemen sekitar 20 orang termasuk Firman Jaya Daeli dan Baskara beraudiensi dengan ketua Fraksi ABRI saat itu Jenderal Hari Sabarno dengan tujuan meminta pertanggungjawaban pemerintah atas ketidaksanggupannya memelihara demokrasi di Indonesia. Kita tahu jelang beberapa jam ditengah hari tanpa disangka-sangka puluhan ribu mahasiswa masuk di gedung parlemen ini dan membuat panggung politik massa, yang hadir bukan hanya mahasiswa tetapi juga ormas-ormas yang bertentangan pada mahasiswa termasuk Pemuda Pancasila. Sehabis audiensi, dengan kehadiran mantan gubernur Ali Sadikin  yang sempat berbincang dengan forum kita akhirnya memutuskan ikut berbicara di panggung politik karena situasi begitu genting karena terlihat akan adanya gesekan horizontal diantara massa setengah cair. Saat itu saya membuktikan sekali lagi seorang Sabam yang terpanggil dalam tugas sejarah, di panggung politik ia menyerukan kepada ormas-ormas yang bertentangan dengan mahasiswa atau gerakan reformasi agar bersatu, agar sadar untuk panggilan kesatuan bangsa, agar tidak membuat konflik horizontal. Bang Sabam menghimbau kepada pimpinan Pemuda Pancasila untuk berjiwa satria dan patriot.

Banyak sekali nasehat-nasehatnya kepada pemuda-pemuda dalam perputaran politik dan menduduki jabatan politik denga cara yang fair. Itulah kira-kira isi buku Bang Sabam di buku Politik Itu Suci, walaupun saya mengkritisi buku itu dengan positif alangkah baiknya kata suci tidak menjadi contradiction in terminis dengan laku politik yang ia hindari dalam artian politisasi agama. Mungkin saya katakan kepada almarhum waktu itu judulnya bisa menjadi politik itu bersih untuk menggantikan kata suci tadi.

Yang bisa kita ingat dari beliau adalah ia bergerak di berbagai isu dan lapisan tapi bukan hanya sebagai pendengar atau bagai karet busa yang menyerap untuk kepentingan pribadinya dan kedudukannya semata tetapi ia senantiasa berbagi apa yang ia rasa benar kepada gerakan khususnya pemuda. Dalam hal ini dia pun lama saya tahu mempersiapkan apa yang ia bagi dalam tugas sejarah, lama sekali ia siapkan semacam riset bayangan dalam diskusi-diskusi kecil  maupun tindakan kecil  yang berarti oleh kedua Sabam yaitu Ia dan Sabam Siagian (alm) untuk meluruskan tugas sejarah atas Mr. Amir Syarifudin (mantan perdana menteri di masa perang kemerdekaan). Saya mengikuti terus sepak terjang beliau untuk membuka tabir kontroversi tokoh Amir Syarifudin itu dalam sejarah nasional bangsa kita. Tokoh yang penuh jasa dalam pra-kemerdekaan dan pembentukan negara revolusi Indonesia, tapi secara tidak adil dalam sejarah dilupakan dan dibunuh berkali-kali karena kita teringat tulisan pendapat sejarawan Perancis bernama Jacques Lecrec mengatakan bahwa sejarah kita membunuh pahlawannya dua kali.  Tugas pencerahan Bang Sabam inilah yang masih berhutang dalam sejarah yang ia ingin wujudkan.

Saya bertemu dengannya suatu saat di tahun 2010-an  bertemu di sebuah momen pemugaran kuburan Amir Syarifudin di Ngaliyan, Karanganyar, Solo yang dihadiri beberapa wartawan, aktivis, mantan anak buah Amir Syarifudin bahkan adik perempuan Amir Syarifudin, itu kira-kira awal dari tanggung jawab sejarah dan obsesi kebenaran sejarah yang belum tuntas dari Bang Sabam Sirait. Semoga generasi muda yang beliau tempa dan gembleng bisa meneruskan cita-cita keberanian beliau dalam tanggung jawab sejarah untuk melakukan dan melanjutkan riset yang telah dijalankan oleh  kedua Sabam almarhum tersebut karena nasihat beliau selalu kepada pemuda yang saya ingat, “Kau dalam hidup apa yang kau perbuat, buatlah bukan kau harus  melihat hasilnya.” Inilah kalimat yang sering dilupan generasi politik milenial yang inginnya melihat hasil instan bukan kesabaran revolusioner.

Seorang Sabam dan idealistik lainnya percaya bahwa api itu akan tetap bergelora bukan menjadi abu tapi bisa tetap menerangi dan membakar jiwa-jiwa mati para generasi yang medioker dan merasuki berbagai lapisan kehidupan bangsa.  Sabam yang saya kenal selalu berbagi api ini tapi tidak menjadikan abu orang lain. Sabam yang saya kenal walaupun mengagumi Bertrand Russell tapi sesungguhnya ia sebagai seorang Socrates yang berani meminum racun demi kebenaran di dalam iklim  demokrasi. Selamat jalan dalam keabadian patriot bangsa.

Purwokerto, 1 Oktober 2021

Padepokan Filosofosi dan Pondok Tani Organik

Ashoka Siahaan

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *