Site Loader
Hubungi Kami

Sosok Manusia Menantang Zaman

Selamat Jalan
Pdt. Dr. SAE Nababan

Kepergian selamanya Pdt. Dr. SAE Nababan mengingatkan kita dalam banyak segi dan daya yang jarang dimiliki banyak intelektual. Untuk mengenang Almarhum di sini tentu saya menulis dari segi filosofi, karena dengan beliau, saya lebih bersinggungan dengan banyak hal yang dialektis. Tulisan ini memang renungan atas hubungan dan perjumpaan manusia-manusia unik, karena itu tidak bermaksud menonjolkan diri ataupun menggurui, tapi berdasarkan pada yang dialami secara kritis dalam perjalanan hidup yang penuh gejolak.

Kelihatan-nya renungan ini panjang lebar, tapi justru itu yang saya maksudkan untuk memperlihatkan secara komprehensif peran besar sosok Pdt. Dr. SAE Nababan.

Keunikan itu adalah perjumpaan kita di akhir tahun 80-an. Dari seluruh keluarga besar Nababan, Almarhumlah yang pertama saya berkenalan berulang-ulang secara sepintas pada awalnya. Ketika saya lulus kuliah filosofi saya diminta Almarhum T.B. Simatupang (Pak Sim) untuk menjadi dosen filsafat dan aktif dalam perumusan serta penulisan, sehubungan saya ketika itu menjadi editor Pak Mochtar Lubis. Tidak disangka-sangka tugas baru yang cukup menantang dihadapkan kepada saya yaitu tanggung jawab menjadi Raporteur pada KGM (Konferensi Gereja dan Masyarakat) dengan tugas mengatur kelayakan pembicara dan paper-paper para intelektual teologi se-Indonesia yang masuk untuk mengisi session-session di KGM tersebut. Nah disaat inilah saya sekilas juga berjumpa dengan Pdt. SAE Nababan sebagai salah satu anggota Steering Committee acara yang diselenggarakan oleh PGI dan Akademi Leimena yang diketuai Pak Pontas Nasution. Ada pengarah lainnya juga seperti Prof. Dr. Judho Widagdo (Duta Wacana), Pdt. Eka Dharmaputera, Drs. Radius Prawiro, Dr. Peter Sumbun, Dr. Yap Thian Hien, Dr. J. Parapak, dan lain-lain.

Banyak sekali orang cerdas di pengarah acara tersebut, saya amat kagum, tapi yang paling menonjol karena suaranya lantang mewakili Pak Sim adalah Almarhum Sae. Akhirnya hampir setiap hari dalam seminggu acara KGM itu saya berdampingan terus di podium sebagai raporteur sekaligus editor konferensi dengan tim teknis dibalik layar dikendalikan oleh Almarhum Alex Litaay. Menarik sekali konferensi itu karena kita harus menjembatani para teolog dengan filosofi, sebab bisa dimengerti teolog/pendeta dari seluruh pelosok Gereja di Indonesia beserta aktivisnya berkumpul dengan perbedaan yang saya simpulkan dalam kubu yang formalistik teologi dan kubu teologi kontekstual. Dengan kewibawaan kedua tokoh Ketua Dewan Gereja Dunia (Wolrd Council of Churches) hal-hal ini bisa diatasi terutama dengan di lontarkanya dalam TOR konferensi sebuah pemikiran baru yang harus diselaraskan dengan paper-paper narasumber yang akan tampil dalam konferensi. Cukup berat, tapi filosofis, pemikiran itu adalah JPJC (Justice, Peace, and Integrity of Creation). Pemikiran ini datang dari seorang bangsawan Jerman Carl Friedrich von Weizsächer (ia seorang ilmuwan fisik sekaligus filsuf abad 20) yang diusulkan kepada Dewan Gereja Dunia. Sayangnya belakang hari penerapanya di Indonesia (PGI) Justice nya dipindah ke belakang diganti dengan Integrity of Creation nya. Saya bukan kecewa karena saya harus merangkum kesimpulan konferensi menjadi buku yang setelah terbit menjadi berbeda susunannya, hanya saya heran dan menjadi mengerti berkaitan dengan menjembatani para teolog/pendeta yang kurang kontekstual dengan arti dari KGM itu sendiri. Dan saya kagum terhadap Almarhum Pak Sim dan Pdt. SAE tetap berbicara dalam konstektual Keadilan, apakah itu dalam pembangunan maupun penanganan-penanganan masalah sosial. Pada setiap Jum’at pun menjadi salah satu topik kita dalam diskusi mingguan Akademi Leimena di PGI bersama tokoh-tokoh intelektual termasuk dua Sabam, Pak Sabam Sirait dan Almarhum Pak Sabam Siagian.

Pada sosok mantan Ephorus HKBP ini bukan sekedar intelektual biasa dengan berbagai gelar, tapi intelektual yang dilengkapi keberanian dan keterbukaan. Ia membawa nuansa ketegasan sekaligus keterbukaan, kekakuan khas Jerman dan kebijakan khas Batak. Dalam arti sesungguhnya Raja pada orang Batak adalah yang mengerti Kebijaksanaan, pemikir yang bisa diikuti, bukan raja dalam kedudukan singgasana turun temurun. Ada kemiripan dengan ucapa Mpu Prapanca di Nagarakertagama “tan tata tita tan tuten” (tidak mengikuti aturan, jangan diikuti). “tan tetes tan tutin tutur” (ia yang tidak terlalu pandai, tidak mengikuti akal sehatnya). Begitulah kurang lebihnya peran almarhum sebagai Ephorus yang juga berarti harus mengerti peran adatnya sehingga bisa memimpin Gereja Protestan Batak.

Keterbukaannya sewaktu perjumpaan saya yang lebih khusus disebuah acara resepsi perkawinan anak sulung Pak Sim (T. B. Simatupang) saya berkesempatan sekilas lagi di dalam perbincangan singkat yang ikut hadir pula Prof T.O. Ihromi (adik perempuan Pak Sim), Dr. Sudjatmoko, Prof. Miriam Budiardjo, dan beberapa penulis UKSW. Dengan lantang beliau bertanya sambil menantang saya berdialog filsafat di Pearadja (Pusat HKBP di Tarutung). Alangkah herannya saya dengan keterbukaan seorang teolog yang mau dialog filosofi di Sumut pula.  Saya ganti juga menantang dengan jawaban : apakah ada teolog mau mendengar filsuf, karena biasanya sudah mengannggap filsafat berbahaya untuk dogma. Tapi dengan tenang ia menjawab “saya terbuka kok, silahkan mau kita diskusi apa dan kapan siap datang ke Tarutung”. Pikiran saya langsung melayang ke latar belakang pendidikan teologi Jermannya, maka saya mengusulkan pembahasan mengenai pemikiran keseimbangan Immanuel Kant antara kategori Imperatif dengan Hipotetis dalam mengatasi persoalan-persoalan manusia. Saya suka sekali dengan gaya khasnya yang pandanganya selalu menyorot tajam sebagai bukti rasa ingin tau nya. Ia sangat disiplin bukan saja dalam menepati janji dan berpikir rasionalnya tapi juga soal menghargai waktu. Percakapan kita berhenti disitu karena waktunya memang kurang pas sambil beliau berharap dan menyampaikan niat janjinya untuk diskusi terbuka filosofi. Dan ini nanti terbukti terwujud setelah bertahun-tahun tidak bertemu.

Sejalan dengan perjalanan waktu sehabis tamat kuliah dan masuk dalam dunia penerbitan Mochtar Lubis anehnya satu-persatu Nababan bersaudara dipertemukan dalam segala faset kehidupan terutama gerakan mulai yang lokal, nasional, dan internasional setelah beberapa waktu perjumpaan saya dengan almarhum dimulai justru dari Bung Asmara Nababan (Almarhum), lalu Indera Nababan, lalu Bang Leonard Nababan, dengan masing-masing keunikannya. Akhirnya setelah menjadi dosen di UKI dan jadi editor di Yayasan Obor Indonesiadalam waktu yang bersamaan mendapat ijin untuk aktif di bidang advokasi. Saya diajak aktif Bung Asmara di JK.LPK bersama-sama pengurus Tanggul Bencana dimana saya bertemu dengan banyak tokoh senior seperti Ibu Ade Rostina Sitompul, Pak Hardoyo (mantan Ketua CGMI), Bung Garuda Nusantara, tokoh buruh Bung Fauzi panggilannya Bang Odji, Sdr. Aris Merdeka Sirait, dan lain-lain. Begitu juga fihak PGI –Salemba mengangkat saya menjadi salah satu anggota Badan Pengurus Yakoma (Yayasan Komunikasi Massa) bersama-sama Pak Aristides Katoppo, Pdt. Daud Palilu dan Pak Indera Nababan sebagai Direkturnya. Beberapa tahun kami bergerak di berbagai peristiwa, yang belakang saya tau bahwa banyak yang secara tidak langsung mendapat “sentuhan” almarhum SAE Nababan.

Sebagai seorang pemimpin memang banyak yang bisa kita pelajari dan ikuti dari beliau yaitu pertama, ia mampu bergerak secara simultan dan gestalt dalam berbagai hal dan masalah; kedua, ia mempunyai daya ingat yang sangat cukup hebat serta setia pada perkara yang kecil, baik itu urusan yang menyangkut urusan personal maupun komunal. Pendek kata saya kagum ia bagaikan Don Corleone dalam buku Mario Puzo ketika berkumpul internal maupun eksternal ia selalu menjadi penuntun dan focus of interest setiap orang menunggu ucapan, nasehat, arahan, teguran tentunya, dan juga kritikan kalo memang ia menanyakan. Peranan istri dibalik layar untuk mengurangin “tension” amat berpengaruh dengan bijaksana dan sabar dari sosok Alida boru Tobing yang pada beberapa acara besar selalu saya lihat giat dan teliti, sabar dan tenang mengimbangi almarhum terutama ketika dia Pearadja Tarutung-Sumut.

Dengan Asmara Nababan saya diajak menyusun buku kecil untuk teman-teman gerakan, dan kita berdua “bersembunyi” di Wisma PGI Puncak untuk selama seminggu menyelesaikan buku kecil berjudul Advokasi, lebih pasnya ini disebut pamflet. Kemudian Sdr. Johny Simajuntak dari Solo diikut sertakan. Ketika kami menulis suatu pagi di hari Minggu, kami dikunjungi Bang Panda Nababan yang masih sebagai redaktur surat kabar, -belum urususan partai-, rupanya sambil ber-weekend bersama keluarga termasuk Putra Nababan yang masih bocah, membawakan makanan “ransum” dan rokok, karena dua bersaudara ini saat itu perokok berat. Lumayan kami bisa sedikit makan enak karena kaka (alm.) itu amat baiknya dan perhatian untuk hal-hal kesejahteraan kesehatan aktivis. Penulisan menjadi lancar dan segera terbit serta cukup berarti sebagai panduan kader-kader di gerakan LSM khusunya KSPPM (Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat).

Beberapa kali rapat di Yakoma dan intens dengan berbagai pembahasan soal lingkungan bersama Asmara dan Indera Nababan sebagai salah satu pendiri KSPPM itu, mengajak saya untuk menjadi peneliti dan penulisan riset menolak PT. IIU (Inti Indorayon Utama) di Tapanuli. Ini menjadi tantangan untuk saya sekaligus bisa riset budaya Batak yang saya kenal selama ini hanya lewat buku-buku saja. Menarik sekali karena menjadi tantangan juga kesempatan mempraktikan filosofi yang Imperatif dan Hipotetis, yang a priori dan a posteriori.

Tiga bulan lamanya riset lingkungan tersebut. Ternyata bukan sekedar riset tapi apa yang kita tulis berupa pamflet itu sekarang harus dipraktekan dalam dunia nyata membela masyarakat Tapanuli dari kehancuran lingkungan oleh PT. Indorayon tersebut. Yang saya tidak habis pikir sampai detik ini adalah –walau hasil riset tersebut masih relevan hingga kini- kenapa Indorayon dari awal sampai kini harus beroperasi diseputar wilayah Tapanuli, kenapa tidak di Kalimantan atau Jambi yang ketika itu belum ada hutan industri kelapa sawit.

Ini yang menjadi tantangan dan tugas intelektual. Disini peran Almarhum SAE Nababan dengan perannya sebagai Ephorus membela masyarakat dengan HKBP digaris depan. Lalu dituduhkan oleh Pemerintah Orde Baru Soeharto bahwa Gereja diseret berpolitik. Amat memalukan sesungguhnya pembisik Soeharto tersebut yang tidak mengerti dictum Gereja Protestan tidak boleh berpolitik, tapi harus bermasyarakat. Jadi oknum politik waktu itu belum bisa membedakan mana yang bermasyarakat dan mana yang berpolitik, walau keduanya bisa saja di hubung-hubungkan. Sosok manusia Sae Nababan bukan sekedar intelektual yang menulis dan membaca apalagi mengajar, tapi sosok yang berani melawan arus. Kecerdasan tanpa keberanian akan menumpulkan dialektika, dan keberanian tanpa tekad akan menjadi kemunafikan dan sloganis semata. Ia tidak demikian, karena saya ketika sebulan berjalan dalam penelitian disana bisa merasakan suasana ketegangan sekaligus harapan masyarakat yang ditaruh dipundaknya. Dari hari ke hari, dari desa ke desa yang saya teliti, penuh dengan amarah dan perpecahan yang dilakukan Orde Baru atas perpecahan Gereja HKBP, ini sungguh memilukan. Semua ini harus dihadapi para pendeta muda dan aktivis KSPPM yang amat saya kagumi militansinya, ketuanya Sdri. Watiek asli Kalimantan, Sdri. Saur Situmorang dari Sidikalang, Sdri. Suryati dari Siantar, Sdr. Eliakim Sitorus dari Sidikalang, Sdr. Sahata Manulang dari Sipahutar, dan banyak lagi kontak masyarakat di desa-desa sampai ke daerah penghujung Onan Runggu. Saat itu hampir tidak ada LSM lain yang mau diajak koalisi, mereka takut dan tiarap, sekalipun dari pusat seperti Walhi sangat berhitung untuk mau terjun ke Tapanuli. Karena draft riset penolakan atas Indorayon tersebut harus diuji di beberapa komunitas agar mendapat masukan dan dukungan menjadi buku yang berjudul Bencana Lingkungan di Tapanuli, maka kita keliling kepada jaringan-jaringan untuk mengadakan ceramah, tetapi sebagian besar menolak kecuali diadakan dengan sembunyi-sembunyi, dan ini tentu tidak efektif. Hanya seorang yang berani ketika itu yang menawarkan bahwn untuk riset sekaligus tempat seminar resmi dan terbuka yaitu Rektor Universitas Atmajaya Medan, saya kagum dan ingat sampai sekarang, yaitu Pastor Gonzaga. Ia memberikan bahan penting untuk buku untuk buku yang sedang disusun yaitu dalih PT. Indorayon atas penebangan pinus bisa diatasi aman melalui penanaman ulang serta cepat tumbuh dan tidak merusak lingkungan yaitu dengan penanaman pohon Eucaliptus. Padahal dalam riset dari Australi yang diberikan oleh Rektor itu menyatakan tanaman tersebut rakus akan hara dan menanduskan tanah serta lahan-lahan subur pertanian.

Berhasilnya seminar di Universitas Atmajaya tersebut membawa gaung walaupun amat berbahaya, karena diawasi habis-habisan. Saya surprise ternyata utusan Pearadja melalui Bung Asmara Nababan menyampaikan undangan khusus dari Ephorus kepada saya untuk orasi analisa sosial masyarakat di hadapan pengurus lengkap HKBP dengan pendeta-pendeta mudannya. Pikiran saya langsung teringat pada sepuluh tahun lebih yang lalu ketika perjumpaan sekilas dengan almarhum di resepsi (T.B. Simatupang).

Langsung saya menyetujui undangan khusus tersebut di kantor Pusat HKBP tempat yang didirikan pertama kali oleh Pdt. Dr. Nommensen. Hanya saja suasana amat berbeda dengan pertemuan sepuluh tahun sebelumnya dalam suasana nyaman, damai, dan nikmat, sekarang dalam suasana genting dan mencekam. Tetapi sosok SAE yang saya sebutkan berani bisa membuat suasana tetap damai dan tenang. Saya disambut sesuai janjinya dulu dengan hangat dan cerdas, karena banyak pendeta-pendeta muda yang baru tamat doctor di Inggris, Jerman sebagai panitia yang mempersiapkan acara seperti Pdt. Robinson Rajaguguk, Pdt. Samosir, Pdt. Gomar Gultom (Ketua Umum PGI), dan banyak sekali aktivis muda yang hadir sekitar seratus orang, lengkap dengan sepuluh preases HKBP se-Indonesia berkumpul untuk mengikuti orasi ansos yang berjudul “Masalah Sosial di Masyarakat sebagai Dampak Perusakan Lingkungan”. Sebagaimana biasanya acara dibuka langsung dengan sambutan dari Ephorus. Isi sambutan yang baru bagi saya adalah sejarah bapak saya sebagai Panglima Komando Medan Area ketika Revolusi Kemerdekaan. Beliau ternyata lebih paham betul riwayat dan mengagumi keberanian Panglima yang saat itu berusia dua puluh tiga tahun sedangkan almarhum menginjak remaja sebagai anak kedua dan tertua laki-laki. Ia berkesan dengan keputusan bapak saya itu ketika sehabis perang Kemerdekaan di tahun 50-an seluruh perkebunan berada dibawah pengawasan militer, dan setiap pejabat teras militer mendapat hak memiliki kebun karet dan lain-lain. Tetapi anehnya menurut beliau, bapak saya yang saat itu menjabat di Pematang Siantar sebagai Komandan Korem menyerahkan bagian lahan kebunnya kepada HKBP untuk membangun Universitas Nommensen Pematang Siantar, begitulah penjelasan beliau yang menjadi saksi sejarah Universitas Nommensen yang saya sendiri baru mengetahui dari ungkapan Ephorus didepan publik acara tersebut. Bahkan beliau sempat menugaskan salah satu Preases untuk menelusuri dan memberikan piagam penghargaan serta pernyataan terimakasih atas jasa tersebut. Tapi karena konflik Gereja waktu itu maka tertunda dan terlupakan lagi hingga hari ini.

Begitu gencarnya tanya jawab dalam orasi ansos itu membuat saya kagum pada pendeta-pendeta muda yang progresif dan terbuka, karena ulasan saya murni filosofis bukan teologis maka terjawablah pertanyaan dan pernyataan saya sepuluh tahun silam soal keseimbangan Imperatif dan Hipotetis kepada Almarhum. Mungkin banyak yang belum paham waktu itu, karena tidak mengikuti latar belakang perjumpaan saya dengan beliau lama sebelumnya. Acara ditutup dengan makan siang yang luarbiasa dengan kambing guling dan segala hewan kecuali anjing tentunya. Dihidangkan dengan cara dan resep Tapanuli yang luar biasa dari Inang Alida boru Tobing (istri Almarhum SAE). Hasil dari orasi itu dikeluarkanlah putusan mengenai kepekaan sosial Gereja dalam masyarakat, karena saya mengungkapkan di forum itu dampak dari lokasi-lokasi penebangan hutan oleh Indorayon dengan tenaga asing membawa dampak sosial budaya dengan berdirinya tempat-tempat hiburan malam sekaligus dengan kelengkapan penghibur dan PSK-nya, bahkan disalah satu daerah berdiri pusat hiburan yang hampir berdekatan dengan wilayah Gereja HKBP.

Pertemuan Pearadja menguatkan untuk segera terbitnya buku riset yang sudah menjadi bahan seminar di Medan juga. Tetapi ini bukan berarti permasalahan Indorayon selesai, bahkan sehabis riset saya dan kembali ke Jakarta, saya mendengar pendeta-pendeta muda banyak yang dipukuli, ditangkap, dan dianiaya.

Mereka itu antara lain Pdt. Samosir, Pdt. Nelson Siregar, Pdt. Gomar Gultom, Pdt. Saut Sirait, dan banyak lagi aktivis sangat berjasa untuk perjuangan rakyat di wilayahnya, bukan berpolitik tapi berkeadilan Justice, Peace, dan Integrity of Creation (JPIC). Bagi saya pribadi pun sebetulnya berimbas dilema menghadapi perpecahan kubu pengurus HKBP, tapi tidak saya hiraukan karena segala putusan ada resiko. Kenapa ? Karena kubu sebelah yang berambisi itu adalah Pdt. Dr. Sontilon Siahaan yang dimotori kuat dana dari Pak Lungguk Sitorus secara tidak langsung. Kedua orang ini sebetulnya berhutang budi pada Bapak saya karena Pak Lungguk adalah pasukan kurir siluman garis depan yang ketika itu masih remaja. Sedangkan Pdt. Sontilon Siahaan sering dibantu masa ia kuliah Jerman dan sering singgah di rumah saya di Beograd Yugoslavia. Hal ini sudah saya sadari dari awal kenapah Ephorus dalam pembukaannya waktu itu memperkenalkan identitas saya sebagai anak dari orang yang ia kagumi. Bagi saya tidak masalah, saya ikut bangga bisa berjuang bersama para aktivis KSPPM dan para pendeta muda yang tidak gentar membela masyarakat karena benar.

Sebagai rangkuman ulasan renungan atas tokoh dan sahabat kita Pdt. Dr. SAE Nababan dapat kita mengmbil makna tiga hal yang dapat menjadi pelajaran bagi kehidupan kita semua.

Pertama, pentingnya soal kepemimpinan yang cerdas, berani dan tegas seperti Almarhum. Harus kita pahami lebih luas bahwa tidak ada pemimpin yang bergerak sendiri untuk kepentingan sendiri tanpa kader yang kuat dan tangguh tidak mungkin seorang pemimpin menjadi besar. Kita ingat cara Soekarno yang selalu mangatakan penting nya Machtvorming dan Machtanvending dengan istilah “eet aan een tafel” yaitu prinsip “semua duduk makan dalam satu meja” pemimpin seyogya-nya memikirkan nasib bersama walaupun sudah menjadi pemimpin atau ketua umum ataupun presiden tetap melihat kader-nya yang berdarah-darah untuk di optimalkan peran-nya sehingga saling menguatkan. Almarhum selalu mendidik dan memberi peran pada kader-nya yang mumpuni untuk maju dan the man on the right place bukan the wrong man on the wrong place.

Kedua, berkaitan dengan yang pertama diatas kita wajib mengajari kader bangsa untuk untuk menghargai sekecil apapun peran dan pemimpin-nya, karena kelak mereka pun akan menjadi pemimpin. Oleh sebab itu saya menulis Obituari ini bukan hanya menceritakan sejarah sosok Pdt. SAE semata melainkan menjelaskan lingkungan dan orang-orang muda yang ikut berjuang mendorongnya berhasil atau menguatkan perjuangan-nya. Saya mendirikan Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) dengan maksud untuk menggali pemikiran dan gerakan pemimpin lokal dimanapun kita berada. Kita jangan terjebak hanya menulis sejarah para hero, raja, dan pahlawan besar, padahal semua berkat kerjasama dalam perjuangan bersama, semua untuk semua. Yang harus dipikirkan dan diperjuangkan adalah anak-anak kader bukan kader-kader anak. Anak-anak kader itu harus melalui benturan-benturan sehingga Terbentuk bukan terbentur dan terbentur lalu Terbuai. Sementara kader-kader anak itu hukumnya terbuai-terbuai lalu terbentuk.

Ketiga, dalam proses menggali kearifan tokoh-tokoh lokal seperti Almarhum, dan banyak juga terdapat di berbagai daerah lain yang terlupakan akan pentingnya kategori Imperatif dan Hipotetis. Boleh dikatakan sama dengan Dichtung und Warheit (keharusan dan kenyataan). Kalo kita mau bandingkan tokoh Nasional seperti Jendral T.B. Simatupang dengan Pdt. SAE Nababan seolah-olah jauh reputasinya secara Nasional. Tetapi kenyataan yang dihadapi Almarhum SAE pada zaman-nya berbeda tantangan-nya. Oleh karena itu menyebutnya sebagai menantang zaman, kalau Pak Sim itu tokoh dengan Zeit Geist, tokoh roh zaman yang melahirkannya. Hal seperti ini banyak yang terjadi dimana-mana sepanjang zaman, ada keharusannya (Imperatif) dan ada syarat-syaratnya (Hipotetis), ada unsur strategisnya dan unsur taktisnya. Pak Sim lebih pada unsur strategisnya sedangkan Almarhum berusaha menjembatani antara keduanya. Pak Sim belum pernah memimpin langsung ditingkat lokal seperti menjadi Ephorus yang harus bersentuhan langsung pada umat sampai ke pelosok dan ini membutuhkan kiat-kiat kepemimpinan yang amat berbeda dengan kepemimpinan tingkat nasional dan internasional. Dalam zaman seperti sekarang dimana para generasi muda mengalami kecemasan (Angst), bagaimana seorang tokoh lokal harus bertindak. Mungkin pemikiran-pemikiran Soren Kierkegaard akan relevan kembali dengan beberapa bukunya seperti Fear and Trembling ketimbang zaman Pak Sim yang didukung para pejuang heroik dan imperatif.

Kiranya ketiga kesimpulan renungan ini bisa menjadi acuan bukan kepada pendeta semcam Almarhum saja, tapi bisa menjadi warisan kepada pemuda dan pemimpin lokal untuk tidak berkecil hati ataupun sebaliknya menjadi arogansi, maka perlu menjaga keseimbangan Imperatif dan Hipotetis seperti Almarhum.

Selamat Jalan untuk selamanya kita akan mengenang perjalanan hidup yang menjadi buah-buah manfaat untuk generasi muda umumnya. Dan selamat beristirahat dalam Kedamaian yang wafat menjelang hari kelahirannya pada akhir bulan Mei ini. R.I.P

 

Purwokerto, 12 Mei 2021

Ashoka Siahaan  

           

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *