Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) merupakan sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengadvokasi kearifan lokal (local wisdom) yang dimiliki oleh rakyat di masing-masing daerahnya. Kearifan lokal yang tumbuh dari masyarakat merupakan buah peradaban yang secara alamiah lahir dari rahim kehidupan rakyat untuk mengisi eksistensi kehidupan mereka. Kearifan lokal bukan hanya mencangkup kesenian tradisional semata seperti tarian, busana dan musik sebagaimana mindset pariwisata, namun juga melingkupi sistem kerja, organisasi, hukum adat, falsafah kehidupan, bidang pertanian, kelautan, dan perekonomian. Kearifan lokal masyarakat Indonesia telah teruji berabad-abad menjaga kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan mengatasi berbagai persoalan kehidupan.

Namun seiring dengan arus kemajuan zaman, keberadaan kearifan lokal yang sangat beragam di Indonesia kian terkikis oleh “gurita modernitas” yang menghendaki satu bentuk macam tata budaya kehidupan. Masuknya modernitas dan industrialisasi tanpa kontrol budaya menyebabkan berbagai permasalahan sosial seperti budaya konsumtif, perusakan alam, degradasi tata nilai sosial-budaya, pendidikan dan ideologi bangsa. Realita zaman modern inilah yang kemudian melatarbelakangi berdirinya LAKL.

Berbagai falsafah dan tata cara kehidupan yang berwujud dalam kearifan lokal yang tetap bertahan selama berabad-abad ini tentu perlu dijaga. Menjaga kearifan lokal tentu jangan sampai terjebak dalam pemahaman “pelestarian budaya” yang hanya menempatkan kearifan lokal masyarakat sebagai objek pariwisata yang dapat dikomersilkan. Pelestarian budaya hanya bersifat statis tanpa ada pengembangan dan kreatifitas yang mampu memberikan manfaat bagi rakyat. Oleh karena itu perlu kreatifitas untuk mengembangkan kearifan lokal agar mampu memberdayakan kreatifas kehidupan rakyat.

Kearifan lokal juga perlu diimbangi dengan rasionalitas yang kritis agar tidak berhenti menjadi slogan kosong semata atau menjadi faktor penghambat kesejahteraan bagi masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, perlu rasionalitas yang kritis agar kearifan lokal tidak menjadi faktor kemunduran kehidupan rakyat. Dengan melihat persoalan cara merawat kearifan lokal bangsa Indonesia, maka prinsip advokasi LAKL adalah pengawalan yang rasional, kritis dan kreatif serta disertai semangat dan empati pada keberpihakan untuk kesejahteraan sosial-budaya masyarakat Indonesia.

Lembaga ini didirikan  pada tahun 1995 oleh Ashoka Siahaan sebagai pengembangan gerakan dari Padepokan Filosofi Yasnaya Polyana untuk menjawab suatu kebutuhan dalam usaha advokasi secara filosofis terhadap kearifan lokal itu sendiri agar bisa menjadi lebih kritis dan kreatif untuk dapat memilah dan memilih (clear and distinct) nilai kearifan yang membawa pada pencerahan dan kemanusiaan. Kita menyadari bahwa kearifan lokal itu penting untuk membangun dinamika masyarakat lokal dalam konteks mobilitas keatas (Nasional maupun Internasional). Oleh karena itu semboyan kami di LAKL adalah “Think Locally Act Globally”, bukan sebaliknya. Lembaga advokasi kearifan lokal berupaya dengan sungguh-sungguh menganalisis nilai kebudayaan lokal yang menjadi akar dari Kebudayaan Nasional, berangkat dari lokal sesungguhnya sebagai sebuah keniscayaan dan bersinergi ditingkat global. Melalui Gerakan Advokasi Kearifan Lokal yakni dengan melakukan  advokasi hal-hal yang arif di masyarakat terutama di tengah masyarakat desa, serta mengakomodir kader-kader bangsa yang memiliki kreativitas di luar kebiasaan masyarakat secara umum agar dapat saling berbagi (sharing) dengan dijiwai Musyawarah Pencerahan.