Site Loader

Kepergian seorang kawan seperjuangan yang bukan hanya sebagai ulama Nahdliyin tapi juga sebagai sosok yang peka atas pederitaan masyarakat bawah – amat mengejutkan kita. Memang sakitnya sudah lama diderita dalam hampir sepuluh tahun lamanya, tetapi sepintas kalau kita bertemu tidak pernah beliau tunjukkan, seolah-olah bukan hal utama karena almarhum selalu lebih mengutamakan pada perjumpaan dan dialog diskusi lintas lembaga, berbagai hal yang mutakhir maupun pemikiran-pemikiran dasar sosial dan kritis.

KH. Abbas Muin (kanan) bersama Ashoka Siahaan (tengah)

Barulah kita tahu terakhir terlihat banyak kemunduran atas kesehatannya yang banyak berdampak pada kelupaan atas berbagai peristiwa kontekstual. Kunjungan saya pada awal 2019 di Lembaga Gatra nya kita terlibat banyak diskusi berbagai topik mutakhir saat itu, dan beliau menyampaikan dua hal penting yaitu tidak merokok sama sekali, walaupun secara “diam-diam” dan yang kedua tidak lagi menghadiri banyak acara publik, karena almarhum menyadari kekhawatirannya kalau nanti memberi komentar dalam diskusi akan salah ucap maupun tidak mengingat orang-orang secara pribadi, walau orang-orang khusus yang betul-betul kawan lama seperjuangannya tidak mungkin dilupakannya.

Bagaimana mungkin kita bisa saling melupakan! Begitu banyak peristiwa yang kita lalui bersama, semenjak beliau berkenalan melalui seorang kader Padepokan Filosofi Sdr. Esrom Aritonang yang juga aktif di Lembaga Bina Desa, Jakarta bersama pendirinya waktu itu Mas Kartjono. Di awal saya mendirikan Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana, almarhum menyempatkan datang mengunjungi saya di desa Peninis, Windujaya ini.

Kunjungan demi kunjungan membuahkan banyak karya nyata kecil maupun besar. Mulai dari kader-kader PMII nya yang dikirim untuk mengikuti kursus-kursus filsafat dan pelatihan tani organik, sampai pada pertemuan-pertemuan maupun rapat-rapat Lembaga Bina Desa yang diadvokasi almarhum untuk mengambil tempat di desa bukan di hotel-hotel besar seperti umumnya dilakukan lembaga LSM besar-besar (Big NGO). Demikian pula secara pribadi beliau “dekat” dengan saya dalam soal menyikapi pendidikan demokrasi desa maupun rakyat yang tidak boleh “buta politik” apalagi “tuli politik”. Padepokan Filosofi selalu ketempatan secara eksklusif untuk perumusan-perumusan strategi pemilu mulai untuk Bupati, Gubernur maupun Presiden tanpa harus melibatkan diri kita dengan background partai politik masing-masing.

Kita betul-betul senafas untuk membela kebangsaan dan keberpihakan pada kebijakan untuk masyarakat kecil. Siapa pun orang yang akan menjadi pemimpin, bukanlah sosok sloganis tapi yang bisa bertanggungjawab maupun mampu mengimplementasikan ideologi Pancasila dalam bentuk-bentuk kerakyatan. Kita sempat bertemu dan berdiskusi dengan berbagai lapisan intelektual dalam konteks ini antaralain alm. Gunawan Wiradi, Mulyana Kusuma, dan lainnya yang sungguh berbeda latar belakang tapi bersemangat kerakyatan. Simpati dan empati saya kepada almarhum memuncak lima belas tahun lalu ketika bertemu ide besar beliau mengenai Pesantren berbasis pertanian. Tanpa berpikir panjang saya memadukan keinginan saya untuk berbagi demi mewujudkan yang seharusnya menjadi karya besar almarhum sebagai percontohan atau model pilot project sebagaimana beliau sampaikan ke saya agar para santri tidak melupakan basis tani dan desa, dan pula tidak harus berbayar jika menjadi santri sehingga bias memenuhi kebutuhan hidupnya yang layak lewat upaya bertani. Hasil kita berbincang mengenai hal tersebut, almarhum tidak menyangka spontanitas saya bukan saja mendukung ide program tersebut tapi sekaligus saya berniat mewakafkan sebagian kurang lebih satu hektar tanah milik saya untuk berdirinya pesantren yang akhirnya memadukan gagasan beliau dengan kerangka filosofi tani dari rumusan saya agar tetap berpegang pada tani organik sehingga nantinya menelurkan banyak intelektual organik berbasis para santri yang bukan elitis tapi merakyat dalam kehidupan desanya. Beliau sendiri yang memilih nama pesantren tersebut, Pesantren Tani Taman Lestari namanya. Oleh karena bentuknya wakaf maka harus dipersembahkan pada Tuhan dan masyarakat sekitarnya sehingga keberadaan pesantren ini mampu berfungsi sosial utamanya dalam hal pendidikan dan juga pertanian. Sedangkan Taman lestari dimaksudkan karena sifatnya wakaf sehingga tidak boleh diperjualbelikan serta bersifat organik berkelanjutan untuk mengimbangi sikap yang modern “kebablasan”. Sebagai penggagas dan pendiri sekaligus, beliau tidak terbersit sedikitpun tentang latar belakang saya dari segala sudut yang amat berbeda latar belakangnya tapi kita mempunyai tujuan yang sama mendasarnya yaitu amanah Mukadimah Undang-Undang Dasar ’45 tentang salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Ketulusan beliau menerima pemberian tanah wakaf saya tidak hipotetis tapi imperatif sesuai kesepakatan awal tersebut. Sayangnya memang proses perjalanan waktu kebanyakan santri maupun sahabat beliau belum mampu dan mumpuni menjalankan pendalaman seperti apa dan bagaimana seharusnya mengisi pemikiran santri-santri di desa yang bukan hanya berkiprah modern dan berkonotasi kota. Harapan saya sebagai pemberi wakaf saat itu sebagai dukungan saya atas cita-cita mulia almarhum sehingga dapat dirasakan pentingnya oleh para sahabat-sahabat beliau, para santri, intelektual dan Kyai. 

Oleh karena itu pada tahun 2020 dalam peringatan HUT Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Yasnaya Polyana, kami menganugerahkan penghargaan filosofi Tridaya Upaya Karsa salah satunya kepada Almarhum, sebagai penghargaan atas cita-cita dan ketulusan kerjasama beliau dengan Padepokan Filosofi serta perjuangan untuk Masyarakat Desa. 

Bulletin Jum’at Media Umat

Mengenang hidup almarhum menjadikan pelajaran yang bisa kita tarik kesimpulannya dalam dua hal penting : pertama, almarhum memilih berjuang di basis desa, rakyat dan kesejahteraan bersama serta selalu memelihara keseimbangan dengan lingkungan alam melalui program-program kesejahteraan rakyat. Dengan demikian beliau selalu memelihara hubungan dengan intelektual organik. Ini yang menguatkan beliau untuk tidak berambisi pada kekuasaan di pusat walaupun banyak kesempatan dimungkinkan baginya, beliau lebih sebagai “king maker”. Kedua, almarhum menjalankan sikap terbuka dalam hidupnya yang luwes sebagai konsekuensi logis dari pembangunan kerakyatan yang seimbang dengan alam. Sikap toleransinya itu imperatif, sehingga tidak disangka-sangka Padepokan Filosofi Yasnaya Polyana pun pernah ikut diundang menjadi pengamat pada Muktamar NU di Jombang pada tahun 2015. Selain itu kami juga beberapa kali diberi kesempatan untuk ikut mengisi buletin jum’at yang beliau gagas, Media Umat namanya. Ini menjadi bukti betapa besarnya jiwa beliau dalam kehidupan berbangsa yang terbuka dan transparan. Semoga ini akan menjadi kenangan manis dan mendalam bagi kita semua dalam kehidupan berbangsa dengan tenteram, damai, dan lestari. Kami akan mengenangmu dalam hidup selamanya. Selamat jalan sahabat untuk selamanya! Rest in Peace.

Padepokan Filosofi – Purwokerto, 29 Mei 2022

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *