Site Loader
Hubungi Kami

Dalam Kenangan

Keberanian Seorang Filsuf

Cerita Ibu Toeti Heraty adalah cerita yang panjang dan penuh dengan momen-momen berharga. Dalam tulisan ini termasuk yang ingin saya kenang karena banyak sekali yang tidak mungkin ditulis walaupun amat berharga. Begitu mendengar berita kepergiannya pukul 05.00 WIB pagi, saya di Padepokan Filosofi Dan Pondok Tani di Purwokerto merasakan satu jiwa yang seolah hilang diantara kita yang ditinggalkan dan kebetulan almarhumah seorang anggota Dewan Kehormatan di Padepokan Filosofi ini. Ia berkunjung kesini sekaligus menghadiri berdirinya LAKL (Lembaga Advokasi Kearifan Lokal) pada tahun 2011 bulan Januari.

Banyak waktu yang saya lewatkan bersama dimulai sewaktu menjadi muridnya di Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) 1982 dan saat saya menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Filsafat menjadi lebih dekat dan bahkan seperti bagian keluarga besar Rooseno setelah hampir 40 tahun kita tetap berkomunikasi. Walaupun saya masih mahasiswa kita sudah berjuang mendirikan Yayasan (Pencinta) Filsafat Indonesia yang akhirnya tidak terwujud karena lebih banyak yang senang yayasan itu menjadi Ikatan Sarjana Filsafat (ISIFI), sayang sekali! Karena saya sudah seperti bagian keluarga suatu saat saya pernah diminta menjadi pagar bagus saat Ibu Toeti ngunduh mantu. Sering sekali undangan keluarga yang saya hadiri, baik di Cemara maupun di Kemang.

Ashoka Siahaan saat menjadi pagar bagus dalam aacara pernikahan putri Ibu Toeti Heraty

Tak terhitung banyaknya kita bersama-sama menangani berbagai hal yang detail dari soal gagasan galeri, gagasan buku, maupun soal-soal artistik rumah maupun restoran. Kenangan yang berpuluh-puluh tahun ini mungkin bisa menjadi sebuah buku kecil dimulai dari menjadi murid lalu menjadi asisten serbaguna yang diutus kemana saja sampai menjadi teman bergerak untuk hal-hal yang formal maupun informal, intelektual maupun yang non intelektual dalam artian teman mengobrol yang istilah jawanya ngalor ngidul , tapi rupanya inilah yang sering membawa inspirasinya. Kita beberapa kali berkunjung ke Bandung di rumahnya jalan cipaganti dan “ngopi” bersama almarhum Pak Noerhadi di ITB maupun di Jakarta, juga kita nonton bersama-sama dengan Haniah, Pak Marzuki ataupun Pak Ojak Siagian. Banyak sekali peristiwa yang lucu, menarik dan kreatif dari resepsi ke resepsi nasional maupun internasional, dari konser ke konser bahkan konser yang ia sendiri berperan sebagai pianis dengan membawakan karya piano Sonata Beethoven di Hotel Dharmawangsa pada ulang tahunnya yang ke 80.

Boleh dikatakan semasa kulaih banyak hal yang dibahas bersama karena saya ketua himpunan, sering sekali Almarhumah meminta bantu mencarikan mahasiswa yang bisa berperan sebagai sekretaris filsafat di luar kampus untuk keperluan administrasi maupun tugas-tugasnya yang sedemikian sibuknya. Sampai-sampai sang sopir dengan nama panggilan Sular memegang peranan penting juga dan berseloroh bahwa “Ibu itu betul perempuan, tapi kesibukannya melebihi orang laki”. Begitulah saya merekomendasi beberapa nama untuk mengatasi kesibukannya mulai dari Sdri. Sinta Gondokusuma, Sdr. Wayan, Sdri. Haniah yang cukup lama mengikutinya hingga jauh setelah lulus, dan terakhir Sdr. Roy Koekerits. Untung saja keempat mereka tidak mengecewakan dan tidak ada komentar, karena saya tahu betul Ibu Toeti kesehariannya senang rapi dan yang paling penting harus gerak cepat, dan ini yang saya suka. Jadi konsekuensinya kalau kita ada keperluan menyangkut hal-hal akademis misalnya mau menggandakan materi buku beliau pun dengan cepat bisa memenuhi permintaan kami, terutama buku-buku langka yang saat itu buku terjemahan filsafat sangat minim. Mungkin saya satu-satunya mantan muridnya yang tidak melanjutkan kuliah setelah S1, tapi justru yang sampai menjelang akhir hidupnya kita masih sering bekerjasama dalam berbagai hal. Keheranan almarhumah adalah ketika saya tidak tertarik melanjutkan ke pasca sarjana walaupun beliau menawarkan beberapa kali termasuk untuk program doktoral. Dan sempat saya katakan bahwa saya lebih tertarik mendirikan penerbit buku filsafat dan Padepokan Filosofi diawal tahun 90 an sebagai wujud dai yayasan filsafat yang dulu gagal kami lanjutkan. Akhirnya saya sempat magang bekerja di Yayasan Obor Indonesia yang menurut Ibu Toeti dimulai di serambi rumahnya di jalan cemara. Konsekuensi saya tidak menerima tawaran kuliah pasca dan doktoral itu, saya merasa lebih banyak waktu bebas berkreasi membentuk ini dan itu dan mempunyai waktu untuk intens mengunjungi beberapa guru besar terutama Ibu Toeti Herati. Ini saya utarakan padanya bahwa saya lebih tertarik menjadikan filsafat sebagai way of life dan praksis dengan mendirikan Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Yasnaya Polyana. Semula hal ini membuatnya agak terheran-heran sebelum akhirnya berkesempatan mengunjungi tempat ini setelah berdiri hampir 20 tahun lamanya dan beliau saya minta sebagai salah satu anggota Dewan Kehormatan.

Lembaga ini juga menjadi salah satu anggota Fédération Internationale des Sociétés de Philosophie (FISP) yang diketuai oleh seorang Yunani di Istambul, İoanna Kuçuradi. Dalam kaitan dengan FISP inilah sebetulnya pada beberapa world kongesnya antaralain di Moskow tahun 1992, saya hadir dan berusaha menyambungkan Prof. Dr. Toeti Heraty agar bisa tetap melanjutkan silaturahmi FISP dengan Prof. Dr. Takdir Alisyahbana yang ketika itu sudah tidak aktif dan wafat. Ini belum bisa terwujud padahal presiden FISP ini sempat hadir di Indonesia tahun 2014  dan mengunjungi serta bertemu anggota-anggota Padepokan Filosofi maupun Pusat Kajian Ideologi Pancasila (PKIP) di kediaman Ibu Albertina Baramuli, jalan Imam Bonjol, Menteng. Sangat saya sayangkan momen penting ini terlewatkan, padahal banyak hal-hal penting yang almarhumah percayakan kelangsungan berbagai acara penting di Jakarta maupun di tempat lain kepada saya selaku pendiri Padepokan Filosofi.

Presiden Federasi Filsafat Sedunia (FISP)
İoanna Kuçuradi (berbaju hijau) diapit Ibu Albertina Baramuli, Ashoka Siahaan dan Rajiv Narayan dari Amnesti Internasional (berbaju biru) selepas diskusi filsafat dan ideologi di kawasan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat

Ada empat momen acara penting yang saya tangani. Pertama, acara mengenang wafatnya sahabat kita Marianne Katoppo, saya diminta memotori keberlangsungan acara dengan Ibu Toeti dan Edward Pesta Sirait sebagai salah satu pembicaranya. Peristiwa kedua yang penting, ketika beliau ingin mengadakan buku Boki Raja pada rangkaian festival Ubud Writers. Tugas saya lucu juga waktu itu karena harus sanggup memboyong Sultan Ternate Mudaffar Syah untuk menjadi salah satu pembicara, agar buku yang menceritakan raja perempuan di Ternate bisa lebih afdol. Untung saja Sultan ini pun bagian dari Dewan Kehormatan Padepokan Filosofi kita. Peristiwa ketiga adalah mengupayakan Bapak Taufiq Kiemas selaku ketua MPR RI untuk membuka pameran lukisan dalam rangka memperingatai setahun wafatnya pelukis Semsar Siahaan. Saya memang mempunyai tanggungjawab moral untuk ini, bukan karena sang pelukis adalah abang saya saja, tetapi juga pada penghormatan saya atas jasa Ibu Toeti yang dengan lapang dada mau menerima permintaan saya untuk mengelola dan merawat dengan baik seluruh karya lukis Semsar di galeri Cemara-nya tanpa pamrih. Sebelumnya seluruh lukisan itu berada di sanggar seorang seniman yang kurang waktu dan kepedulian untuk merawat karya-karya Semsar tersebut, maka saya berinisiatif memindahkan secara sepihak ke galeri cemara yang justru bisa berkreasi mengolah lukisan-lukisan tesebut, salah satunya dengan acara mengenang Semsar. Belakang hari, ketika galeri di tambahkan menjadi museum, Ibu Toeti bahkan menetapkan ada khusus dua corner atau room untuk dua Pelukis yang ia kenal yaitu Salim Room, dan Semsar Room. Itulah yang saya anggap tanggungjawab moral untuk membawa Pak Taufiq Kiemas yang membuka pameran tersebut dengan sangat semarak dari pidato Ibu Toeti dan Pak Taufiq. Peristiwa keempat, juga masalah tanggungjawab moral untuk mengenang sejarawan dan sahabat kita Peter Kasenda sekaligus ia juga anggota di Padepokan Filosofi dan sering mengajar di kursus filsafat kami di Padepokan. Karena Ibu Toeti ingin mengadakan acara setahun mengenang Peter Kasenda maka dipilihlah tema Bung Karno. Saya dihubungi Iva sekretais Ibu Toeti yang super gesit menyampaikan pesan Ibu agar saya bisa menjadi moderator pada acara tersebut. Ini langsung saya sanggupi. Tidak berapa lama waktu saya dihubungi kembali untuk memberi saan siapa saja yang akan diundang sekaligus kalau ada pembicara penting lainnya, selain Ibu Toeti sendiri, Dr. Peter Carey, Dr. Agnes Sri Purbasari dari UI. Saya spontan saja mengusulkan Mas Guruh Soekarno Putra sebagai pembicara. Tidak berapa lama dihubungi kembali untuk mengatakan Ibu sangat setuju sekali, supaya acara mengenai Bung Karno lebih afdol ada anak kandungnya Soekarno. Saya pikir usul saya selesai sampai disitu. Ternyata unik juga saya dihubungi kembali untuk menyampaikan usul Ibu betugas membawa Mas Guruh, bukan hanya sampai disitu lagi, telepon berikutnya saya sekaligus diminta sebagai pembawa acara bahkan menerima tamu-tamu penting juga. Saya sudah mengerti kalau Ibu Toeti memberi tugas sepeti itu berarti beliau merasa tenang atas kesanggupan yang dia yakini seseorang itu mumpuni. Saya jadi tertawa dalam hati dan senang juga dengan gaya seperti itu, ia yakin betul pada seseorang yang ia yakini. Akhirnya acara berlangsung bagus sekali, karena Mas Guruh menyempatkan hadir bahkan meluangkan waktu cukup lama sampai habis makan siang dilanjutkan “ngopi ramah tamah” kekeluargaan dengan Ibu Toeti di ruang khusus kamar pribadinya. Inilah terakhir perjumpaan sekaligus tugas yang selalu berat yang beliau pecayakan ada saya. Sangat mengharukan perjuampaan yang saya tidak sangka menjadi perbincangan terakhir. Dan sebetulnya kalau tidak terhambat wabah covid, bulan maret lalu Ibu Toeti sudah diencanakan Padepokan Filosofi untuk menerima Penghargaan Filosofi Tridaya Upaya Karsa sebagai acara tahunan kami yang didukung oleh Kabupaten Banyumas dan selalu dihadiri oleh pakar-pakar dari FIB UI. Semoga tahun depan walaupun almarhumah sudah tiada tetap kami berikan lewat perwakilannya sebagai tanda terimakasih yang mendalam selama pulhan tahun ikut menyumbang saran dan perhatian serta kerjasama untuk menyelenggarakan acara-acara tersebut diatas antara Galeri Cemara dengan Padepokan Filosofi, LAKL serta sebagai patron pada House of Writers kami.

Sebagai penutup uraian human encounter kita bersama Ibu Toeti dapat saya simpulkan dalam tiga ciri seorang yang menjalani laku filosofi. Pertama, almarhum Toeti Heraty selalu berkembang up to date, karena itu ia tidak pernah merasa takut disaingi. Perjalanan pemikirannya yang kreatif kadang dialektis dan semakin berenergi ketika menghadapi tantangan serta selalu mencari sebab bukan terpaku pada akibat. Karena itu siapa pun yang pernah menjadi muridnya “serasa” tetap ingin belajar padanya, dan ia selalu terbuka lebar tangan dan hatinya untuk mengembangkan gerakan bersama orang lain bukan hanya kepentingan dirinya sendiri apakah itu kelompok kecil ataupun cikal bakal gerakan yang dari kelompok idealis maupun dari lapisan yang lebih besar. Kita teringat kata-kata dalam War and Peace, Leo tolstoy, “sekecil apapun hidup itu haruslah dihargai” begitu juga dengan ungkapan Socrates yang terkenal “hidup yang tidak bermakna tidak pantas dihargai”. Semoga kelompok-kelompok yang pernah bersinggungan dan dikembangkan baik pribadi, mahasiswa, intelektual, maupun individual yang dikembangkan oleh Ibu Toeti dapat dimaknai dan ditangkap apinya oleh kelompok orang-orang tersebut tadi bukan untuk kepentingannya sendiri tapi meneruskan sikap hidup untuk kemashlahatan orang banyak. Dengan demikian peradaban bisa berkembang sebagaimana dari Socrates kepada Plato berlanjut ke Aristoteles dan Alexandre The Great, inilah tanggungjawab peradaban. Kedua, dalam perjalanan hidupnya sebagai dosen dan intelektual bebas ia tak pernah tergoda dan silau pada kekuasaan tetapi selalu tetap on the track of the truth. Suatu ketika pernah terdengar cerita akan dicalonkan sebagai menteri urusan wanita, tapi ia tidak merespon justru memberi tanggapan bahwa urusan dharma wanita sama saja dengan drama wanita karena di dalamnya identik peran wanita dengan jabatan yang dijalankan sang suami. Memang terkesan almarhumah penuh dengan diplomasi tapi tidak mengubah pendirian intelektualnya demi sepotong kertas yang dapat menguatkan dirinya pada jabatan pemerintahan. Ketiga, senantiasa mengerti jalannya peradaban itu tidak bisa dilakukan sendirian, apalagi dimonopoli segelintir manusia. Ia berusaha selalu mengembangkan baik itu ide dan perwujudannya dalam segala bentuk kreasinya. Selalu ia move on, tidak mandek dalam kemapanan hidup. Banyak orang mapan dan berpuas diri dengan berkarya sendiri menjadi megalomaniak ataupun narsistik intelektual. Ia selalu berani mencoba kemugkinan-kemungkinan yang lebih baik dalam berbagai lapisan masyarakat dan profesi, karena itu ia tidak pernah berhenti merangkul siapa saja yang bisa diajak untuk maju terus dalam berkebudayaan dan mengukir peradaban. Mencipta dan Merawat! Selamat jalan untuk selamanya, namanya akan terus terukir dalam nafas peradaban, RIP (/sen)

Padepokan Filosofi-Purwokerto, 13 Juni 2021

Ashoka Siahaan

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *