Site Loader
Hubungi Kami

Sentul, 2/11/2019. Kolaborasi menulis jurnal ilmiah antara akademisi dan praktisi/pegiat sosial menjadi karya yang mendukung kerja kemanusiaan oleh keduanya. Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana dan Lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) berkesempatan menjadi salah satu presenter dalam kegiatan symposium bertajuk Join-Syimposium on Community Empowerment and Social Innovation (SCESI) 2019 dengan paper berjudul Misi Pencerahan Berinonasi dan Advokasi Kearifan Lokal. Simposium yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) ini dirancang sebagai wadah untuk membangun kerja bersama antara pegiat masyarakat dan komunitas dengan akademisi, khususnya collaborative writing project.

Ashoka Siahaan-
Padepokan Filosofi dan Pondok Tani mempresentasikan Pencerahan Berinovasi

Ashoka Siahaan pendiri Padepokan Filosofi memberikan pemaparan tentang kisah dan perjuangan “meracuni” pikiran rakyat dengan pendekatan Advokasi Filosofis yang menjadi konsen dari gerakan di Padepokan. Aktifitas keberpihakan kepada rakyat dengan memberikan pemahaman kritis kepada warga masyarakat di wilayah Purwokerto dan sekitarnya khususnya soal filsafat tani dan penekanan bahwa tanah itu suci menjadi topic yang disampaikan kepada peserta lain dalam symposium tersebut. Ia juga menuturkan bagaimana program-program yang dirintis Padepokan mulai dari pertemuan selasaan dengan Prometheus Society hingga kerja-kerja kebudayaan baik dengan lokal, nasional, maupun internasional.

Kunjungan cicit dari Pujangga besar Rusia Leo Tolstoy membuka mata warga sekitar bahwa dari gunung dan wilayah terpencil pun dapat berjejaring dan berkolaborasi dengan dunia internasional, hingga terjadilah jejaring Purwokerto-Jogja-Moscow pada 2011 silam. Selain itu melalui advokasi filosofis ini pemikiran lokal baik dari aktifitas masyarakat yang ada serta para pemikir lokal dapat dikreatifkan dan menjadi contoh dunia luar tanpa harus mengobyekkannya.

LAKL yang diwakili oleh Warseno sebagai bagian dari Padepokan yang mengejewantahkan sebagian pemikiran dan gerakan dari Padepokan juga menyampaikan tentang advokasi kearifan lokal. Perkembangan zaman berupa teknologi dan informasi tidak serta merta mampu menempatkan kearifan lokal sebagai subjek dalam upaya pengkreatifan kebudayaan, justru sebaliknya ia hanya menjadi objek dalam perkembangan dan inovasi desa. LAKL menekankan pada usaha menjaga keseimbangan dalam aktifitas pelestarian kearifan lokal dan pengkreatifan kearifan lokal.

Narasumber utama SCESI 2019; Saturnino Jun Borras memberikan panduan collaborative writing project kepada peserta

Symposium yang dipandu langsung oleh Saturnino Jun Borras Editor in Chief Journal of Peasant Studies – The Hague Netherlands membuka mata pegiat masyarakat dan akademisi bahwa dalam kolaborasi dan kerja-kerja pengabdian masyarakat tidak boleh mengorbankan objek penelitiannya. Justru jalan yang harus ditempuh adalah keseimbangan “two ways” sinergisitas subjek-subjek antara akademisi dan pegiat. Dimana kolaborasi yang dilakukan adalah untuk mengembangkan keduanya dan mencari inovasi bersama dalam mencapai tujuan dalam pengabdian masyarakat.

Jun menuturkan bahwa kegiatan pengabdian yang dilakukan serta jurnal-jurnal yang dipublikasikan tidak boleh hanya sebatas mengejar indeks dan seberapa banyak dikutip, namun bagaimana kedua hal tersebut dapat merubah kondisi masyarakat. Sehingga dalam hal ini ia juga menekankan dalam menulis kolaborasi jurnal harus mampu mengangkat isu-isu strategis dan solusi yang bersifat universal dalam substansi pemikirannya, hingga akhirnya jurnal yang dihasilkan akan dapat dibaca dan diaplikasikan oleh banyak kelompok di banyak Negara dengan menyesuaikan pada keadaan dan sumber daya yang dimiliki masing-masing Negara. Diakhir sesi pemaparan abstrak kelompok perserta SCESI 2019, Jun memberikan beberapa masukan konstruktif untuk penggiat/praktisi dan akademisi.

Aktifitas penulisan Land Transfer And The Cooptation Of Local Wisdom By Industry

Kegiatan yang berlangsung pada 31 Oktober – 2 November ini dihadiri oleh beberapa perwakilan pegiat komunitas dan masyarakat dari beberapa kabupaten di Indonesia, diantaranya Kampung Papring-Banyuwangi, Komunitas Hidora, Desa Tembi-Jogjakarta, Agrarian Research Center (ARC), Timang Research Center, Lentera Sintas Indonesia, Sanggar Anak AKAR, Desa Geriana Kauh-Karangasem, dan Desa Darmaji-Banyumas. Diharapkan symposium dapat menjadi awal yang baik bagi kolaborasi pegiat/praktisi dan akademisi dalam menuliskan pengalaman pemberdayaan dan menginovasinya agar menjadi sebuah solusi alternatif dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ilmu di bidang humaniora. (red)

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *