Site Loader

Asap kayu bakar yang menyembul dari sela-sela tirai bambu dan potongan-potongan kayu sisa selalu menghiasai pemandangan pagi yang cerah di grumbul Peninis, Windujaya. Sebuah desa kecil yang terletak di lereng Gunung Slamet, Banyumas, Jawa Tengah. Sosok setengah baya bernama Ritam tiap harinya menghabiskan waktu dari pagi subuh hingga menjelang senja dengan naik turun 50 pohon kelapa. Aktivitasnya sebagai seorang penderes kelapa telah ia lakoni semenjak 15 tahun lalu. Tak terhitung sudah banyaknya berapa kali ia naik turun pohon kelapa, jika aktivitas itu dikonversi hanya sebagai aktivitas naik pohon saja kira-kira selama 15 tahun ia sudah berada di ketinggian 70  juta kaki atau setarap dengan 2.333 kali tingginya  dari jelajah terbang pesawat komersil yang terbang pada dikisaran tinggi 30 ribu kaki.

Namun jika ditanya hasil dari ketinggian itu, kita mungkin akan merasa iba tatkala mendengar harga sekilo gula kelapa cetak dari hasil deresannya hanya dihargai kurang dari 15 ribu rupiah. Padahal sekilo gula kelapa cetak harus ia kumpulkan dari tetes demi tetes air nira sekira 5 pohon kelapa. Namun perjuangan untuk bertahan hidup dan serta menjaga harkat dan martabat sebagai manusia jauh lebih penting ketimbang lelah atau bahkan dari bahaya yang terus saja mengintai saban harinya.

hari-hari Ritam dalam memanjat kelapa ia lakoni tanpa bantuan alat pengaman sedikitpun. Kakinya yang semakin kekar tiap harinya bak tokoh Spiderman dalam cerita fiksi marvel seakan mewujud dalam diri penderes Ritam ini. Sebenarnya bukan persoalan lelah ia harus naik turun tiap pagi dan sore, namun persoalan sesungguhnya yang harus kita perhatikan bersama adalah tentang sebuah budaya dan kearifan lokal yang dimiliki para penderes ini. Di Banyumas yang termasyur produksi gula merah kelapa dan para penderesnya ini, kita cukup prihatin selain ketiadaan alat bantu panjat pohon kelapa – entah karena memang belum tersedia ataupun sebenarnya penderes yang justru merasa kurang nyaman memanjat dengan alat – alasan lain keprihatinan itu adalah semakin minimnya generasi muda penderes.

Kelangkaan penerus inilah yang seharusnya menjadi konsen para pemangku kebijakan atas tata kelola perdagangan komoditas gula merah di pasaran, tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menjaga nilai tukar tani lebih tinggi dari produk-produk industry dan barang konsumsi dari pabrikan. Jika nilai tukar tani ini rendah, jangan kau tanya bagaimana nasib penerus penderes ini atau kemana perginya Ritam 20 tahun yang akan datang.

Ritam tak sendiri, bersama istrinya mereka menggantungkan nasib dari tiap tetes air nira yang keluar dari batang manggar pohon kelapa yang ia perbarui irisannya tiap hari. Aktivitas memasak nira kelapa bisa mereka lakukan dua kali sehari dengan menjadikan masakan kedua pada sore harinya setengah jadi untuk dilanjutkan keesokan paginya. Sekira pukul 10.00 WIB satu wajan besar telah matang dan siap dicetak menjadi gula merah cetak.

Tak semanis gula yang dieroleh, terkadang dalam proses pengolahan di wajan tungku itu cairan nira itu gagal menjadi gula. Nira yang mulai mengental untuk dicetak kedalam cetakan yang terbuat dari potongan bambu itu harus mereka relakan memadat di wajan sebelum cetak. Kegagalan ini mereka sebut gemblung. Otomatis mengurangi pendapatan mereka karena gemblung ini harganya lebih rendah jika dibanding cetakan yang sempurna.

 Apa yang sedang dijalani oleh Ritam dan istrinya menjadi sepenggal cerita bagaimana kaum tani adalah cerminan marhaen sejati. Mereka memilih untuk tidak tunduk pada sistem kerja pabrik atau bahkan menjadi tenaga kerja di luar negeri (TKI/TKW) ditengah banyanya pemuda yang lebih gagah dan kuat dari mereka terpaksa harus tunduk pada kerja industri. Bagi para penderes ini memaksimalkan alat produksi demi melangsungkan hidup jauh lebih bermartabat. Jika saat ini kreatifitas banyak dipegang anak-anak muda milenial, para penderes ini justru menjadi sumber inspirasi betapa kuatnya semangat perjuangan hidup dan memelihara kearifan. Namun nun jauh di masa depan kelak dan bahkan sekarang ini, tugas pemangku kebijakan dan para pemuda kreatif untuk mau peduli dan berpihak pada penderes nira kelapa sangat dibutuhkan. Lindungi keselamatan, lindungi nilai tukar tani, dan lindungi kebudyaan lokal. Ritam adalah sosok marhaen yang harus terus diadvokasi dengan pencerahan, ilmu pengetahuan, dan kreatifitas agar ia tetap mampu memaksimalkan alat produksinya serta dapat keluar dari sistem ekonomi subsisten yang terus mengintainya.

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *