Site Loader
Hubungi Kami

Politik telah “mati”, begitulah pernyataan dalam orasi filosofi yang dibawakan Ashoka Siahaan, pendiri Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana dalam kegiatan Penghargaan Filosofi Tridaya Upaya Karsa.

Kegiatan yang sudah dua tahun berjalan ini merupakan bentuk apresiasi kepada orang yang terus bergerak dalam bidang-bidang kehidupan yang bernafaskan semangat filosofi untuk mencerahkan manusia.

Bertepatan dengan HUT Kabupaten Banyumas ke 449 tahun, diharapkan oleh Ashoka kegiatan yang diinisiasi oleh Padepokan Filosofi ini dapat ikut menyemarakkan dan menjadi salah satu ikon di Banyumas yang konsen pada penguatan intelektual organik dan pemikiran filsafat kritis.

Orasi berjudul “Matinya Politik” dipilih sebagai sumbangan pemikiran kritis dan filosofis Padepokan melihat dinamika kebangsaan yang suka dengan gonjang-ganjing politik. “Matinya Politik bukan untuk makna peyoratif”, tegas Ashoka. Namun ia ingin mengingatkan jika politik hanya dimaknai “kekuasaan” dalam perebutan kursi jabatan dan tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyat serta tidak membangun mobilitas sosial vertikal, maka justru yang terjadi adalah politik yang tidak sehat dan akan mati.

Ia mengajak kepada masyarakat Banyumas khususnya dan Nasional pada umumnya untuk kembali membangun diksi Jasmerah terhadap Trisakti dan memahaminya lebih kontekstual tanpa meninggalkan substansi.

Menurut pendiri Pusat Kajian Ideologi Pancasila ini Intelektual harus berperan sebagai jembatan emas. Intelektual jangan anti politisi, dan politisi jangan memusuhi intelektual, apalagi politisi dan intelektual yang konpiratif dalam politik transaksional, ia akan membunuh politik yang sehat. Ashoka kembali mengingatkan bahwa partai politik dan pers adalah elemen-elemen dalam demokrasi politik.

Penghargaan Filosofi Tridaya Upaya Karsa kali ini diberikan kepada Mahaguru Merpati Putih R. Sunardjo, KH. Abbas Muin, Lc aktivis di Bina Desa, Albertina Baramuli, SH Pendiri Yayasan Sumber Agung yang menerbitkan Buku Filsafat, serta Dra. Ostina E. Pandjaitan seorang Redaktur Koran Soember tahun 1946-1956 sekaligus penulis buku Manusia Sebagai Eksistensi Kierkegard

Hadir dalam kegiatan ini Bupati Banyumas yang diwakili Staff Ahli bidang Kesra dan Pemerintahan. Bupati mendukung kegiatan ini untuk meningkatkan kepekaan dan daya pikir kritis masyarakat Banyumas sehingga mampu merespon fenomena sosial yang berkembang dalam sambutannya.

Kegiatan juga diisi dengan Forum Filosofi Kebangsaan dengan narasumber Agus Santoso staff Ahli Kemenkop-UKM dan Reynaldo De Archellie dosen Sastra Rusia dari FIB UI. Dalam forum ini banyak dipaparkan soal keterkaitan penguatan ekonomi kerakyatan degan pengembangan kebudayaan dan kearifan lokal.

Kegiatan ini ditutup dengan mengingatkan kembali jejak langkah Banyumas yang telah mencetuskan berbagai macam peristiwa sejarah nasional seperti berdirinya koperasi oleh R. Aria Wirjaatmadja, maupun deklarasi Persatuan Perjuangan oleh Jenderal Soedirman dan langkah-langkah kedepan setiap tahunnya dengan acara-acara seperti Penghargaan Tridaya Upaya Karsa ini.

Post Author: Yasnaya Polyana Indonesia

Yasnaya Polyana Indonesia, Padepokan Filosofi & Pondok Tani Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *