Empat Tahun Pengakuan Kedaulatan

Empat tahun yang lalu pada tanggal 27 Desember 1949, kemerdekaan Indonesia diakui oleh seluruh dunia sebagai hasil dari perjuangan yang telah meminta korban dan penderitaan yang tidak kecil dari rakyat dan AP.

Sekarang kita menghadapi impasse yang umum di negara kita. Dalam lapangan politik kita menghadapi impasse. Juga dalam lapangan ekonomi kita menghadapi impasse, dalam tiga tahun yang di belakang kita pembangunan dalam lapangan ekonomi tidak sepadan dengan korban-korban yang telah diberikan untuk merebut kemerdekaan dan bagi rakyat umum penghidupan yang sekarang adalah lebih berat dibanding tiga tahun yang lalu. Dalam lapangan militerpun kita menghadapi impasse, AP yang selama perjuangan kemerdekaan menjadi pelopor sekarang sedang disayat-sayat dan diracuni oleh orang-orang politik.

Tetapi impasse yang pokok ialah impasse politik. Apa yang sering digembar-gemborkan sebagai krisis moral tidak lain dari akibat dari perkembangan yang mematikan harapan dalam lapangan politik dan pemerintahan. Juga impasse dalam lapangan ekonomi dan militer juga merupakan akibat dari impasse dalam lapangan politik.

Kalau kita dapat menembus impasse dalam lapangan politik maka masih ada harapan bahwa lambat laun keadaan akan dapat diperbaiki. Sebaliknya apabila impasse politik tidak di atasi maka dengan sendirinya tak mungkin dijalankan pemerintahan yang jujur dan cakap dan keadaan tiap hari akan menjadi lebih buruk. Impasse politik berpokok pada DPR yang tidak representatif dan yang kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Pemerintah yang dapat mempertahankan dirinya terhadap DPR ini hanya Pemerintah yang coba “membeli” bantuan dari DPR itu dengan jalan yang tidak selalu sesuai dengan kepentingan rakyat. Pemerintah yang jujur dan cakap tidak mungkin dibentuk selama DPR yang tidak representatif ini masih berkuasa.

Selain dari itu terdapat pertentangan-pertentangan yang sangat tajam dalam lapangan politik yang kesemuanya menambah kelumpuhan yang sekarang ini terdapat dalam negara. Dwi-tunggal yang dahulu sering memberikan bimbingan sekarang tidak ada terasa pengaruhnya yang baik lagi. Di luar, orang kini berkata bahwa Dwi-tunggal Soekarno-Hatta telah tidak ada lagi, dan telah diganti oleh Dwi-tunggal yang baru yakni Soekarno-Sakirman. Pertentangan antara Bung Karno dan Bung Hatta yang berpokok pada pendapat yang berlainan tentang cara perjuangan Irian tidak mendekatkan Irian kepada kita dan hanya menambah pertentangan-pertentangan di antara kita sama kita.

Selain dari itu ada lagi pertentangan di antara partai-partai politik mengenai dasar-dasar yang sebaiknya bagi negara kita. Orang khawatir mendengar cita-cita tentang pembentukan suatu negara Islam dan bertanya apakah dasar itu dimaksud untuk mengganti dasar-dasar negara sekarang. Terdapat pula pendapat yang berlain-lainan tentang  tempat yang harus diberikan kepada perasaan dan kepentingan kedaerahan dalam susunan negara kita juga tentang kegiatan dan cita-cita kaum Komunis menimbulkan kekhawatiran akan perkembangan ke arah diktator yang mengabaikan sila Ketuhanan dan yang menaklukkan kepentingan Indonesia kepada kepentingan suatu negara asing.

Orang mengharap agar impasse politik itu akan bisa ditembus apabila diadakan pemilihan umum. Akan tetapi adakah kesungguhan untuk mengadakan Pemilihan Umum secepat mungkin?

Susunan panitia pemilihan tidak memberikan keyakinan bahwa memang ada maksud untuk mengadakan Pemilihan Umum yang jujur selekas-lekasnya. Mulai timbul sekarang bahwa partai-partai dan golongan-golongan tertentu mempunyai siasat untuk menunda Pemilihan Umum selama mungkin. Dan waktu sekarang hingga Pemilihan Umum hendak dipergunakan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin uang dengan segala jalan untuk menguasai alat-alat kekuasaan terutama tentara, polisi, pamong praja dan penerangan.

Kita hanya khawatir bahwa dengan cara ini kesulitankesulitan akan memuncak sehingga negara kita mengalami kekacauan yang umum sebelum Pemilihan Umum dapa dilaksanakan.

Pada saat kita memperingati tiga tahun pengakuan kedaulatan maka kita serukan kepada gembong-gembong politik agar mereka merenungkan keadaan negara kita dan melupakan sejenak kata-kata klise yang tiap hari kita baca di koran-koran sebagai interview atau pidato dari gembong ini dan itu.

(Samuel Pandjaitan † 1921-1967).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *