Pusat Kajian Ideologi Pancasila : Kopi Serikat Gotong-royong

Pusat Kajian Ideologi Pancasila : Kopi Serikat Gotong-royong

www.yasnayapolyanaindonesia.com
Demonstrasi Cupping Coffee oleh Ashary Kimiawan disela-sela acara Seminar bertajuk Kearifan lokal dan Ketahanan Ideologi

Purwokerto (30/07), Lembaga Advokasi Kearifan Lokal bersama Pusat Kajian Ideologi Pancasila dan Kementerian Dalam Negeri RI menggandeng Komunitas Juguran Kopi se Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen (Barlingmas-cakep) mendiskusikan peranan kopi-kopi lokal dalam menjaga nilai kearifan lokal serta ketahanan Ideologi Pancasila. Acara yang bertajuk Merawat Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dengan semangat Produk kopi lokal dihadiri seratusan peserta baik dari petani kopi, pemilik kedai kopi, pecinta kopi serta masyarakat umum yang antusias terhadap keberadaan kopi lokal sebagai alat pemersatu bangsa dan penjaga benteng Ideologi Pancasila.

Perjalanan kopi merupakan perjalanan peradaban, dari kecil menjadi besar, dari pelosok menjadi sejagat, terang Ashoka Siahaan (Ketua Pusat Kajian Ideologi Pancasila) sebagai salah satu pembicara dalam kegiatan ini dengan membawakan papernya yang berjudul “Kopi Serikat Gotong-royong” ia mengatakan bahwa Ideologi Pancasila pun dibangun atas realitas kearifan lokal, berangkat dari nilai-nilai lokal yang telah ada dan tumbuh di daerah-daerah di Indonesia menjadi sebuah ide besar yang mendunia dan menjadi ideologi bangsa Indonesia. Indonesia jauh lebih maju dalam hal produk kopi dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya, terbukti dengan adanya produk kopi lokal Indonesia dengan brand Sumatra Coffee maupun Java Coffee di kedai-kedai kopi negara Amerika maupun di Eropa, imbuhnya.

Lebih lanjut Ashoka mengatakan tradisi warung kopi/kedai kopi selalu terdiri dari manusia-manusia yang mencari obrolan dan perkembangan situasi, kondisi, sosial, politik dan budaya. Kita bisa mengamati bagaimana interaksi antara penjual kopi dengan pemakainya secara lebih alami (natural) tidak harus membawa labeling pabrik besar. Berkaitan dengan hal ini perlu disadari betapa egaliternya kopi dari asal-usulnya dan proses penawaran dan penjualan biji kopi (coffee bean). Menurut Ashoka tradisi yang dimiliki kopi yang egaliter berbeda dengan tradisi minum teh yang cenderung lebih individual dan herbalistik, sebaliknya kopi memiliki daya eksotik dan menghadirkan sifat kultural dan expieriential

Senada dengan Azhari yang mengatakan kopi lebih banyak mengajak kita untuk self educate. Kreatifitas pecinta kopi dituntut untuk selalu berkembang dan mampu menghasilkan cita rasa yang diminati konsumen.

Ia menceritakan bagaimana masyarakat Indonesia justru tidak bisa menikmati kopi-kopi lokal yang ada karena justru masyarakat Indonesia disuguhi kopi yang sudah bercapur dengan esen. “satu tetes esen kopi mampu membuat satu ton sesuatu benda memiliki karakteristik yang sangat identik dengan kopi sebenarnya” tegas dia yang menjadi pembicara kedua dalam seminar dan diskusi ini.

Merebaknya kedai-kedai kopi dianggap justru menjauhkan kopi-kopi lokal dari rakyat karen harganya yang sesuai dengan kantong masyarakat ekonomi menengah ke atas, terang Fajar sebagai salah satu peserta seminar dalam sesi tanya jawab. Hal ini berbanding terbalik dengan keterangan dari Azhary yang mengatakan dengan merebaknya kedai kopi yang menawarkan produk kopi lokal justru akan mendekatkan rakyat dengan produk kopi Nusantara sendiri yang notabene hingga sekarang hanya dijual di pasar internasional.

Ashoka mengatakan bahwa kopi-kopi lokal yang mulai digemari dan banyak beredar di pasar lokal adalah wujud perlawanan terhadap industrialisasi kopi yang monopolistik dan hanya bisa dilakukan oleh pemodal raksasa. Dengan semangat kopi lokal tentu akan menghidupi petani kopi dan menambah wawasan serta rasa kebangsaan yang kuat, tegasnya.

Dalam seminar yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut dipaparkan tantangan internal dan eksternal produk kopi lokal dan para pegiat kopi lokal. Bisa kita sebutkan satu per satu tantangan dan hambatan dari eksternal seperti persaingan modal raksasa baik itu bentuk usahanya maupun skala perkebunanya, selain itu segi promosi periklanan media yang cukup canggih dari kompetitor raksasa. Dari sisi internal ialah sulitnya menghadapi manusia medioker/pas-psan yang suka menjiplak kinerja orang lain; ini yang sebetulnya juga dihadapi oleh bukan hanya usaha kecil kopi tapi jenis usaha lainnya seperti martabak dan bakso.

Tantangan lain yang kini harus dihadapi adalah hilangnya nilai-nilai filosofi baik petani maupun pegiat kopi. Kopi yang yang mampu mengikat persaudaraan serta mampu melahirkan imajinasi kini -oleh sebagian orang- hanya diperlakukan sebagai komoditi ekonomi. Kopi tidak lagi dianggap sebagai sebuah pengikat persaudaraan dan ke-Bhinneka-an serta sarat nilai filosofis, tegas Bhiku Damasubho Mahatera yang hadir sebagai peserta, karena pikiran pragmatis dari para pelaku bisnis yang hanya mengejar nilai ekonomis dari kopi. Sekarang ada istilah kopi paste, kelakarnya.

Sebagai penutup seminar dan diskusi, Azhary menutup diskusinya dengan mengatakan Belajar bukan untuk mendahului, namun untuk terus mengimbangi situasi. Ashoka Mengatakan “Bersama Kita Bisa” menyemai kekuatan kopi lokal dengan koperasi bukan kuperasi. Karena koperasi itu merupakan soko guru perkonomian bangsa dan representasi perjuangan sila ke lima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *