Memaknai Air Untuk Kehidupan Menjadi Tema Di Simposium Dua World Culture Forum 2016

Memaknai Air Untuk Kehidupan Menjadi Tema Di Simposium Dua World Culture Forum 2016

Subak atau sistem pengairan sawah menjadi fokus utama dalam Simposium 2 World Culture Forum yang diselenggarakan di Bali pada 10-14 Oktober 2016. Mengangkat tema “Water of Life: Reconciling Socio-Economic Growth end Environmental Etchics”, pemerintah Indonesia mengajak seluruh masyarakat dunia berdiskusi akan pentingnya air sebagai bagian dari pertumbuhan sosial dan pembangunan yang berkelanjutan.

Tiga pembicara dihadirkan dalam forum ini, di antaranya Wayan Windia (Pakar Subak), Hendro Sangkoyo (Aktivis lingkungan), dan Satoko Kishimoto (Pakar Perairan). Ketiganya menjabarkan tentang bagaimana air dalam kaitannya dengan kehidupan manusia dan kaitannya dengan budaya adat setempat. Sistem pengairan sawah atau Subak menjadi salah satu contoh nyata budaya pengelolaan air di Bali, yang menjadi materi pokok dari Simposium 2 ini.

Dalam paparannya, Wayan Windia menjelaskan bahwa Topografi Bali menjadi salah satu alasan akan pentingnya Subak. “Subak ada karena topografi lereng Bali yang memberikan kesempatan untuk mendistribusikan air dengan cukup. Setiap Subak harus memiliki satu kanal khusus untuk mengairi sawah, yang akan mengalir ke kanal lain dan mengairi Subak di daerah bawah tanah,” jelasnya. Subak, lanjutnya, harus mampu mendistribusikan air cukup dengan satu inlet dan satu outlet.

Berbeda dengan Wayan, Hendro Sangkoyo justru lebih menitikberatkan kepada krisis air di beberapa wilayah di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar masalah yang terjadi pada air adalah karena manusia acapkali membuang sampah di sungai dan pengaruh buruk dari eksplorasi dan ekstraksi minyak dan gas.

“Perluasan kota juga menyebabkan krisis air, karena ekstraksi air merajalela. Rencana Greenbelt yang telah dirancang oleh pemerintah untuk melindungi tanah dan air dikalahkan oleh keinginan yang kuat dari pembangunan seperti villa dan hotel. Dalam beberapa kasus, krisis air telah berhasil menciptakan konflik yang kuat dan kecurigaan antara petani dan masyarakat lokal,” Hendro mengungkapkan.

Menurutnya, beberapa situasi yang kompleks lain dalam isu air juga dibuat oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. “Jangka waktu kerjasama antara nexuses ekonomis dan sosial dapat menjadi solusi untuk memecahkan masalah sosial-ekonomi antara pemerintah, masyarakat, dan masyarakat. Praktik sosial yang mengatur juga menjadi solusi untuk mengatasi krisis ini,” katanya. Sementara itu, Satoko Kishimoto memberikan pandangan lain. Ia mengatakan bahwa air harus diperlakukan sebagai makhluk hidup lainnya, bukan sebagai komoditas yang akhirnya justru menimbulkan masalah baru.

“Air adalah akses publik. Semua masyarakat sudah seharusnya mendapatkan air bersih dengan mudah. Bila Anda menjadikan air sebagai sumber komoditas, masalah lain akan timbul,” jelas Satoko. “Jakarta misalnya, di mana air bersih adalah masalah besar dan banyak orang akhirnya melakukan ekstraksi air tanah. Padahal ekstraksi air tanah telah terkontaminasi dan membuat Jakarta tenggelam lebih dalam. Masyarakat Jakarta, khususnya warga miskin, harus membeli dari penyedia air dengan biaya yang cukup mahal,” tutupnya.

Critical Comment

Kita harus melihat sistem Subak yang ada diBali sebagai bagian particular dari etika air secara universal yang harus terus dipelihara. Secara lokal Subak memang bagus diterapkan untuk topografi seperti di Bali yang terdiri dari lereng-lereng. Begitu pula kasus di dataran rendah seperti beberapa tempat di jawa pun memiliki penangan tersendiri dalam membuat irigasi pertanian yang sering kita dengar dengan jatah lep air. Ini memiliki arti jatah untuk pembagian air dimusim-musim kemarau yang kekurangan air dengan memanfaatkan kanal-kanal (kalen) dan masih banyak lagi istilah irigasi pertanian diwilayah Indonesia yang menjadi kearifan lokal masing-masig yang kesemuanya memiliki tantangan tersendiri dalam praktiknya, contoh kecil adalah praktik kekerasan atau keributan antar warga soal jatah air. Hal ini menjadi kendala dalam etika air sebagai pendorong kemajuan sosio-ekonomi.

Secara universal dalam praktik etika air untuk kesejahteraan rakyat, unit-unit yang ada layaknya Subak di Bali dimasa mendatang pun akan berhadapan dengan para pemiik modal yang menjadikan air sebagai komoditas demi memperkaya diri, jelas Ashoka Siahaan ketua Pusat Kajian Ideologi Pancasila yang juga sebagai invited participant simposium di WCF 2016. Kepada redaksi yasnayapolyanaIndonesia.com dan Buletin Sumber beliau menyampaikan bahwa kedepan tetap saja para pemilik modal akan menguasai sistem, cara dan alat yang lebih canggih untuk mengeksplorasi sumber-sumber air baik di dataran tinggi maupun rendah secara besar-besaran karena tuntutan penggunaan air bersih. Disinilah tuntutan bagi sistem-sistem lokal seperti Subak di Bali maupun diwilayah lain sebagaimana yang dialami di wilayah pemukiman Padepokan Filosofi dan Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana, Baturraden, Purwokerto, Banyumas yang kaya dengan mata air dan sudah menjadi incaran dari berbagai kekuatan modal. Dengan lembaga Advokasi Kearifan Lokal (LAKL) pun kita mengadvokasi pada rakyat setempat untuk terus dapat menjaga pengelolaan air untuk kepentingan lokalitas hal tersebut senada dengan pendapat Satoko bahwa air bukan komoditas tetapi air harus diperlakukan sebagai makhluk hidup; karena itulah bukan hanya Subak, melainkan dimanapun masyarakat lokal harus dapat menjaga air misal melalui model penelitian terhadap kondisi air bawah tanah khususnya didataran rendah yang menyerap air dari lereng-lereng tinggi pegunungan yang menjadi sumber air bagi masyarakat. Jika tidak ada penjagaan atas kondisi air baik di dataran tinggi dan juga di dataran rendah maka kedepan sumber air di dataran tinggi yang menjadi sumber resapan air bersih bagi dataran rendah pun akan terkuras dan tersedot habis oleh para kapitalis pemilik modal.

Di negara kita masalah pemerataan air masih menjadi problem besar yang belum teratasi. Selain dalam sistem irigasi pertanian, maslah ini juga mengancam penduduk Indonesia saat datang musim kemarau panjang. Bila kita tinjau lebih jauh sebenarnya problem pemerataan air bukan hanya sekedar pemenuhan atas rasa haus maupun kebutuhan irigasi, namun hal ini menjadi problem keadilan dunia. Ditinjau dari segi apapun baik secara teologis dan ilmu pengetahuan kita semua tahu tidak ada yang dapat membuat air, maka sudah seharusnya seluruh umat manusia mendapat pemerataan air sebagai bagian pokok dari keberlangsungan hidupnya.

Ashoka menambakan secara Pancasilais mengingat advokasi kehidupan sosial, maka kita harus berprinsip pada “membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar” dalam berbagai aspek. Seperti halnya sistem Subak yang telah menjadi contoh riil, walaupun harus tetap dirawat, ini harus terus disuarakan agar di wilayah lain di Indonesia dapat melakukan hal serupa dengan sistem kearifan lokal mereka masing-masing untuk melawan oknum yang menjadikan air sebagai komoditas. Komunitas-komunitas maupun masyarakat dengan sistem adat maupun kearifan lokal harus menciptakan sistem pengamanan dan pemeliharaan air serta lingkungan yang mendukung ketersediaan air bagi kehidupan, pemerintah menjamin air bersih bagi kehidupan rakyat dalam undang-undang,  menjaga ketersediaan air agar tetap baik kondisinya melalui upaya-upaya penjagaan lingkungan, tidak monopolistik, tidak rakus dan selalu mengupayakan air sebagai bagian dari keadilan sosial.

(warseno & redaktur buletin sumber : wawancara dan dari berbagai sumber)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *