Diskusi dan Bedah Buku Tan Malaka, “Sosok Tan Malaka Belum Dikenal Luas”

Diskusi dan Bedah Buku Tan Malaka, “Sosok Tan Malaka Belum Dikenal Luas”

SOSOK Tan Malaka hingga kini belum dikenal luas di kalangan masyarakat. Kondisi tersebut terungkap saat gelaran Diskusi dan Peluncuran Buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 3 yang berlangsung di Aula FISIP Unsoed, Kamis (21/10).

Salah satu penanya dalam diskusi dan bedah buku tersebut, Subur Putra mengaku ketika baru mendengar pertama kali nama Tan Malaka dianggapnya sebagai nama sebuah tempat. Tidak hanya itu, dia juga mengemukakan baru pertama kali mengetahui Tan Malaka merupakan salah satu pemikir besar Indonesia.

“Selama ini saya berpikir Tan Malaka itu nama tempat yang ada di Sumatera. Dan ketika saya sekolah hanya mengenal nama Tan Malaka sebagai pemberontak saja,” ucapnya saat sesi diskusi tanya jawab.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu kenyataan sejarah yang ada selama ini selalu berpihak kepada penguasa. Dalam diskusi tersebut hadir sebagai pembicara Harry A Poeze, PhD (Peneliti sekaligus penulis buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia), Ashoka Siahaan (Pendiri Padepokan Filosofi Yasnaya Polyana Purwokerto) dan Drs Hendri Restu Adi, M Si.

Dalam gelaran tersebut, Harry Poeze memaparkan sejarah panjang Tan Malaka dalam melakukan perjuangan yang dilakukan sepanjang hayatnya. Selain itu, dia juga mengungkapkan beberapa catatan sejarah yang selama ini luput dari pengetahuan masyarakat. “Saya menemukan dokumentasi lagu Indonesia Raya yang dibuat tahun 1930 dan kata-katanya berbeda,” ujar peneliti asal Belanda tersebut.

Kelas berat
Poeze yang melakukan penelitian tentang Tan Malaka lebih dari tiga dekade ini mengaku baru kali pertama menginjakan kaki di Purwokerto. Dia menilai spirit yang ada dalam bedah bukunya cukup merepresentasikan gerakan yang ada di Purwokerto.

Pembicara lainnya, Ashoka menyoroti latar belakang Tan Malaka dan Jenderal Soedirman yang mempunyai kesamaan pemikiran walau mempunyai profesi yang berbeda. Dia juga mengungkapkan dalam perjuangan melawan penjajah, keduanya mempunyai sikap yang sama. “Kedua tokoh mempunyai semangat ilmu pengetahuan dan kritisisme dalam dunia pendidikan. Ketertarikan Soedirman untuk bergabung dengan Persatuan Perjuanagn tidak lain karena sikap yang sama menghadapi penjajah agar mengakui kemerdekaan Indonesia 100 persen.”

Sementara itu, Hendri Restu Adi mengatakan Tan Malaka menjadi sosok unik lantaran kesendiriannya dalam perjuangan mewujudkan cita-citanya. Hendri juga menyoroti buku yang ditulis Harry Poeze termasuk “kelas berat”.

“Jika biasanya saya membaca buku bisa sambil mendengarkan musik, khusus untuk buku ini saya harus konsentrasi penuh. Dan harus diakui kata yang dipilih sangat bagus,” ujarnya.

Gelaran yang dihelat Keluarga Besar Mahasiswa Sosiologi (KBMS) FISIP Unsoed, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, KITLV Jakarta, Universitas Jenderal Soedirman dan Lembaga Advokasi Kearifan Lokal tersebut dimulai sekitar pukul 09.30-13.00 WIB.

(Chandra Iswinarno/CN27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *