Ekowisata, Atmosfer Tolstoy, dan Harmoni Kebhinekaan di Kaki Gunung Slamet

Ekowisata, Atmosfer Tolstoy, dan Harmoni Kebhinekaan di Kaki Gunung Slamet

Siapa yang menyangka jika sebuah gagasan mulia dan inisiatif bertaraf internasional terlahir di sebuah desa kecil di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah, tepatnya di desa Windujaya, Kedungbanteng, Purwokerto. Sebidang tanah di desa ini telah disulap menjadi sebuah padepokan filosofi dan pondok tani organik yang mampu mengusung tema dan mengamalkan ekowisata, pertukaran budaya, nilai-nilai kebhinekaan, bahkan turut menciptakan persahabatan dan perdamaian antar bangsa. Padepokan filosofi dan pondok tani organik ini bernama Yasnaya Polyana, diambil dari nama tempat kediaman penyair Russia terkenal, Lev Tolstoy, yang berarti bright/clear meadow dalam bahasa Inggris. Sang pemilik dan pemrakarsanya, Bapak Ashoka Siahaan memilih nama tersebut karena terisnpirasi oleh Tolstoy, seorang figur penulis dan penyair jitu dan juga karena kegemarannya terhadap Russia dan literaturnya.

            Semula berawal dari hal sederhana dengan berdirinya sebuah pondok tani organik dan pondok tulis serta padepokan filosofi yang bertujuan menggugah pola pikir masyarakat untuk mencintai alam dan melestarikannya serta mengajak masyarakat untuk terus mengedukasi diri melalui filosofi dan literatur. Dalam perkembangannya, dibangunlah pondok tulis dan ruang baca, perpustakaan mini, mini tea and coffee house, pendidikan anak tani dan alam, juga akomodasi dan paket wisata alam, outbound, training, bahkan majalah terbitan sendiri. Perkembangan Yasnaya Polyana dan hasil yang dipetik dari gagasan mulia ini mengundang banyak simpati dari berbagai pihak dalam negeri bahkan luar negeri, sehingga tidak heran bilamana lembaga ini dapat melebarkan sayapnya dengan lebih signifikan. Sebut saja dalam kurun waktu dua setengah tahun terakhir, lembaga ini mendapat simpati dan perhatian khusus dari kedutaan Russia, khususnya Pusat Kebudayaan Russia, komunitas Russia, bahkan keturunan dan kerabat Lev Tolstoy sendiri. Seluruh komunitas Russia ini mendukung dengan penuh didirikannya aula Tolstoy yang kemudian hari dapat digunakan sebagai sarana berkumpul dan bertemu dengan delegasi-delegasi internasional, khususnya Russia. Selain itu, beberapa petak tanah yang masih nganggur di Yasnaya Polyana pun tidak dibiarkan terbengkalai dan tidak lepas dari perhatian aktivis perdamaian lintas agama, yang akhirnya memulai proyek bersama untuk membangun sarana berkumpulnya aktivis dan orang-orang pengusung perdamaian lintas agama dari berbagai agama yang ada di Indonesia.

            Melihat pada ekowisata yang diterapkan oleh Yasnaya Polyana, kita mampu belajar mengenai bagaimana mengelola keseluruhan aspek ekowisata dengan profesional dan memegang teguh prinsip idealisme yang terkandung di dalam konsep ecotourismtersebut. Dalam hal menjalankan prinsip idealisme ekowisata, Yasnaya Polyana menetapkan untuk tidak menerima tamu dari luar, membatasi jumlah tamu yang datang, dan menyeleksi tujuan dan falsafah hidup para calon tamu tersebut (lembaga ini hanya memperbolehkan calon tamu yang memiliki niat merawat lingkungan dan cinta alam sambil berwisata, bukan tamu yang sembarang tamu dan ingin senang-senang belaka). Hal ini dilakukan demi tercapainya tujuan pelestarian alam dan ekowisata itu sendiri. Dalam hal pengadaan paket-paket wisata, training, dan outbond, Yasnaya Polyana menciptakan paket-paket kegiatan yang bertemakan back to nature ‘banget’, sambil juga mengusung tema community based tourism, yakni wisata berbasis kemasyarakatan, dimana masyarakat setempat turut terlibat dalam berjalannya bisnis pariwisata yang bersangkutan. Isi paket kegiatan yang disediakan antara lain melihat cara memasak gula aren, cara memanen hasil tanaman organik, menanam pohon, berwisata keliling lereng Gunung Slamet, mendaki Gunung Slamet, berkebun, bercocok tanam secara organik, dan mengolah makanan secara tradisional. Dari segi akomodasi, lembaga ini menyediakan segala jenis menu makanan dan minuman yang dihasilkan dan dibuat di kebun dan dapur sendiri. Bahan baku makanan dan minuman yang disajikan bagi para tamu dari breakfast hingga dinner dan snack merupakan hasil kebun organik sendiri, yang semakin menambah nilai ekowisata itu sendiri. Selain itu selama menginap di Yasnaya Polyana Indonesia, tamu senantiasa disuguhi pemandangan alam kaki Gunung Slamet yang asri dan terawat dengan baik.

            Masih dalam tema yang sama mengenai tujuan mulia dari berdirinya lembaga ini, Yasnaya Polyana menyelenggarakan pendidikan untuk masyarakat setempat, khususnya para petani desa untuk dapat mengembangkan usahanya melalui pertanian organik yang aman dan sehat. Demikian pula sumbangsih lembaga ini dalam bidang edukatif lainnya, seperti bekerja sama dengan beberapa universitas sahabat. Selain itu, dengan diadakannya pondok tulis, perpustakaan mini dan padepokan filosofi, lembaga ini semakin melengkapi tujuan mulianya untuk mencerdaskan anak bangsa. Manfaat dari diadakannya edukasi melalui perpustakaan mini, majalah terbitan sendiri, pondok tulis dan berbagai aspek edukatif lainnya adalah terwujudnya persahabatan dan perdamaian di dalam kebhinekaan negara Indonesia. Maka tidak heran apabila tujuan mulia itu terus bertambah dan meningkat, hingga pada taraf persahabatan dan perdamaian antar agama, negara, suku, dan budaya. Hal ini terbukti dari banyaknya pihak yang ingin turut terlibat dalam mewujudkan cita-cita yang terkandung dalam lembaga ini, khususnya keinginan untuk mewujudkan harmoni di dalam kebhinekaan. Lembaga keagamaanpun turut ambil bagian dalam berpartisipasi mewujudkan perdamaian dan dialog antar agama, misalnya saja dari pondok pesantren, Keuskupan Purwokerto, dan lain-lain.

            Hmmm…lalu, apa hubungannya dengan Lev Tolstoy, Sang pujangga itu? Ternyata, pilihan nama lokasi pun tidak salah. Dengan diberi nama Yasnaya Polyana, lembaga dan tempat ini mendapat perhatian dan dukungan istimewa dari komunitas bahkan Pusat Budaya Russia di bawah Kedutaan Besar Russia di Indonesia. Tidak sedikit orang penting Russia yang telah mengunjungi lokasi lembaga ini, sebut saja Bapak Vyacheslav Tuchnin, Direktur Pusat Budaya Russia, lalu Vladimir Tolstoy, keturunan langsung dari Lev Tolstoy. Dengan dukungan dari komunitas Russia, lembaga ini mampu mengembangkan diri lebih cepat dan dengan hasil yang lebih gemilang. Kini, Yasnaya Polyana Indonesia sudah mampu melebarkan sayap untuk menjalin persahabatan antarbangsa di luar Russia, bahkan juga Italia, Perancis, Inggris, dan beberapa negara lainnya berkat dukungan yang mula-mula diberikan oleh komunitas Russia tersebut. Yasnaya Polyana Indonesia tidak hanya menjadi tempat bertemu, namun juga tempat pertukaran budaya dan komunikasi, bahkan persahabatan dan perdamaian antar bangsa. Pilihan nama lokasi yang tepat ini juga membawa dampak baik lainnya, seperti bagi para penggemar literatur Russia ala Lev Tolstoy dan pujangga klasik Russia lainnya dapat memuaskan minat baca dan bersantainya di sini dengan atmosfer Tolstoy yang khas, dimana buku –buku klasik Russia dapat ditemukan di perpustakaan lembaga tersebut.

            Singkat kata, kita dapat menikmati segala hal positif dan turut memberikan sumbangsih kita untuk sebuah lembaga dengan tujuan mulia ini sambil juga berwisata dan menikmati keindahan alam. Di Yasnaya Polyana Indonesia, keseluruhan aspek dari ekowisata, atmosfer Tolstoy bahkan hingga harmoni dalam kebhinekaan Indonesia dan dunia dapat dirasakan di sini. Lembaga ini merupakan teladan bagi terlaksananya sebuah pariwisata berkonsep dengan dampak dan tujuan mulia.

1

Gambar searah jarum jam : atmosfer ala Tolstoy di Yasnaya Polyana Indonesia; Teras pondok tulis dan perpustakaan; Pemandangan dari kolam dan pondok tulis; pemandangan sekitar kaki Gunung Slamet.

2

Dari kiri ke kanan : peletakkan batu pertama oleh Vladimir Tolstoy; pemandangan alam sekitar kebun; Aula Tolstoy; Buku tamu diisi oleh Vyacheslav Tuchnin; Tulisan oleh Vladimir Tolstoy; Signage dalam aksara Jawa; Situasi perpustakaan dan ruang baca santai; Sisa lahan di Polyana; Bakar sukun dari kebun organik sendiri; pemandangan taman di Polyana; pemandangan sekitar Polyana; pembuatan gula aren oleh masyarakat setempat; spanduk di gerbang masuk Polyana.

Penulis : Gabriela Santika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *